Jakarta, RMOL.
Sejak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berdiri, belum pernah perempuan menjadi pimpinannya. Tapi kali ini ada secercah harapan, kaum hawa mengomandoi lembaga superbody itu.
Sebab, di antara 12 calon Ketua KPK salah satunya adalah perempuan, yakni Melli Darsa yang selama ini telah menggeluti dunia hukum sebagai pengacara.
“Memang perempuan lemah secara fisik. Tapi pada dasarnya tangguh dan kalau diberi pekerjaan,’’ ujar Melli Darsa kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Berikut kutipan selengkapnya:
Bagaimana perasaannya masuk 12 besar calon Ketua KPK?
Ya, jelas senang sekali. Sebab, calonnya kan ada 143 orang. Kemudian sekarang tinggal 12 orang.
Anda satu-satunya perempuan yang masuk 12 besar, apa komentarnya?
Motivasi awal saya, ingin berbuat sesuatu untuk memberantas korupsi di negeri ini. Selain itu, ada juga keinginan mencetak sejarah bahwa saya perempuan pertama menjadi Ketua KPK.
Selama ini ada persepsi wanita kurang pas jadi Ketua KPK?
Memang, kalau kita bicara soal KPK sama dengan kepolisian dan kejaksaan yang pimpinannya didominasi pria. Jadi penegak hukum itu kental urusan maskulin (jantan dan berani). Tapi menurut saya, komisi ini tak hanya membutuhkan pendekatan penegakan hukum tapi juga edukasi dan pencegahan, maka saya menilai Ketua KPK idealnya diisi perempuan.
Alasannya?
Perempuan itu kan sudah pasti punya empati, jadi tahu aspek sosiologis maupun psikologis korupsi itu terjadi, sehingga bisa menciptakan program dan edukasi yang lebih baik.
Ooo gitu, bagaimana soal persepsi kalau perempuan itu lemah, sehingga tidak cocok memimpin KPK?
Memang perempuan lembah secara fisik. Tapi pada dasarnya tangguh dan kalau diberi pekerjaan. Dia cakep dan tidak begitu mudah dipengaruhi untuk tidak mengikuti prosedur dan melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Jadi sebenarnya kelemahan fisik dan persepsi emosional itu lebih bersifat pribadi, sementara korupsi itu kan tidak pribadi. Justru sebenarnya seorang wanita itu mungkin baik sekali sebagai pimpinan KPK tapi tidak berarti saya yang terbaik.
Tapi Anda yakin bisa menjadi terbaik kalau dipilih menjadi Ketua KPK?
Saya beri contoh saja ya. Salah satu komisoner yang jadi pimpinan KPK yang paling sukses di Hongkong itu adalah wanita. Jadi bisa ditepis kalau pimpinan KPK itu identik dengan pria.
Apakah ada firasat bisa masuk 12 besar?
Ada juga sih firasat.
Kenapa kepingin jadi pimpinan KPK?
Itu karena saya punya concern (kepedulian) terhadap apa yang menjadi persoalan hukum di negara ini, khuusnya pada pemberantasan korupsi. Setahun belakangan ini kan korupsi betul-betul menimbulkan keresahan, makanya saya sebagai salah seorang yang ikut bergelut dengan hukum tidak bisa tinggal diam saja. Saya mendaftar semata atas dasar kepedulian, bukan mencari kemenangan.
Bagaimana dengan adanya makelar kasus?
Kita sebagai masyarakat harus sabar dan tertib mengikuti prosedur yang ada. Dalam pemudahan perkara misalnya, makelar kasus itu ada karena ketidakpuasan masyarakat. Dengan sistem yang baku, tentu mafia itu tak akan terjadi.
Penghasilan Anda sebagai pengacara kan lumayan besar, kenapa mau jadi pimpinan KPK?
Memang benar penghasilan saya saat ini lumayan besar. Tapi persoalan penegakan hukum ini kan juga saya alami. Permasalahannya, kalau penegak hukum kita sekarang kotor, masyarakat akan makin apatis. Selesaikan persoalan di internal aparat penegak hukum juga kan tidak mungkin, makanya saya ingin ungkapkan masukan-masukan saya dengan ikut seleksi ini.
Itu saja tujuannya?
O, tidak dong. Saya kepingin terpilih juga. Sebab, korupsi sekarang ini hampir di semua lini, jadi tidak boleh pilih-pilih. Tapi harus juga ada agenda prioritas.
Anda bersaing dengan Jimly Asshiddiqie, Busyro Muqoddas, dan Bambang Widjojanto, gimana tuh?
Saya hormati mereka sebagai senior. Tapi intinya saya bukan takut bersaing. Saya hormati mereka dan 11 calon lainnya.
Tekanan sebagai pimpinan KPK cukup besar karena akan berhadapan dengan koruptor, Anda siap?
Insya Allah, saya siap, doain saja. Mudah-mudahan diberi kemudahan supaya berguna bagi bangsa dan rakyat.
Sudah siap mental nggak hadapi teror bahkan sampai dikriminalisasi?
Ya mudah-mudahan tidak dikriminalisasi, kalau diteror saya sudah siap sebagai konsekuensi atas risiko pekerjaan.
Anda memiliki law firm, apakah bersedia untuk meninggalkannya kalau terpilih menjadi Ketua KPK?
Kalau itu, ya harus dong...
[RM]