Jakarta, RMOL.
Bagi Ketua Ketua Kaukus Anti Korupsi DPD itu bisa masuk 12 besar saja merupakan kebahagiaan tersendiri. Sebab, calon yang mendaftar sebanyak 133 orang.
“Jangan bicara yakin atau nggak yakin terpilih memimpin KPK. Jabatan seperti ini kan amanah. Jadi, kita tunggu saja tahapan penyeleksian berikutnya,’’ kata I Wayan Sudirta kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, Sabtu (31/7).
Berikut kutipan selengkapnya:
Bagaimana perasaannya masuk 12 besar calon Ketua KPK?
Sebenarnya saya belum layak untuk berkomentar, tapi karena ditanya, ya dijawab. Memang ada rasa senang. Sebab, yang mendaftar mula-mula sebanyak 133 orang, kemudian diseleksi menjadi 85, hingga akhirnya menjadi 12. Jadi, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi dukungan dan doa.
Untuk seleksi berikutnya bagaimana?
Masih ada dua proses berikutnya lagi. Saya punya keyakinan bahwa Pansel ini akan memilih yang terbaik dari yang baik. Saya percaya mereka sangat obyektif dalam memilih calon pemimpin sebuah lembaga superbody yang memberantas korupsi yang notabenenya adalah kejahatan yang luar biasa.
Kok begitu yakin Pansel sangat obyektif dalam menyeleksi?
Ya, yakin dong. Saya sangat yakin bahwa Pansel obyektif dan sungguh-sungguh memilih yang terbaik di antara yang ada. Siapapun yang terpilih nanti mesti kita dukung bersama-sama. Sebab, korupsi ini sudah membikin negara kita kocar-kacir.
Berarti Anda nggak yakin terpilih ya?
Harusnya jangan tanya yakin dan nggak yakin. Yang penting siapapun yang terpilih nanti untuk menjalankan amanah, itu harus kita dukung bersama. Ini kan tugas penting dan berat.
Persaingannya semakin ketat ya, ada Jimly Asshiddiqie, Busyro Muqoddas, dan Bambang Widjojanto?
Saya tidak mau mengomentari itu. Yang jelas, calon yang masuk 12 besar bagus-bagus semuanya, sehingga persaingannya semakin ketat. Bahkan yang tidak lolos pun bagus-bagus. Tapi Pansel punya kriteria tersendiri dan punya cara untuk menilainya. Jadi, tidak layak bicara optimistis dan pesimis terhadap calon yang ada. Kita serahkan saja kepada Pansel untuk memilih yang paling layak dan paling tepat.
Maksudnya tidak perlu sombong begitu?
Ya, kita jangan sombong, jangan menggurui, sok tahu, dan jangan paling mampu setelah masuk 12 besar.
O ya, bagaimana strateginya agar tugas berat sebagai Ketua KPK bisa dilaksanakan?
Hal pertama yang diperhatikan adalah bagaimana strategi dan aksi yang akan dicanangkan. Selain itu perlu mencontoh keberhasilan KPK di Hong Kong dan Singapura. Mungkin pola di Singapura yang perlu dipelajari mendalam. Sebab, situasinya lebih mirip dengan Indonesia.
Apa ada yang lain?
Siapa pun nanti yang terpilih, hendaknya tidak memikirkan hal-hal lain, kecuali melakukan tugas sebagai Ketua KPK, yakni bagaimana agar kasus-kasus korupsi bisa diungkap. Sebab, kalau ada keinginan yang lain-lain, tentu akan menjadi beban bagi KPK.
Maksudnya keinginan lain-lain itu apa?
Misalnya kepingin memanfaatkan jabatan demi kepentingan diri sendiri, kelompok atau koleganya. Kalau ada misi seperti itu, pasti membebani KPK.
Artinya kalau dipercaya memimpin KPK harus tulus mengabdi kepada bangsa, negara, dan masyarakat ya?
Ya betul. Yang penting bagaimana kita bisa mengabdi pada negara dengan sisa hidup yang ada. Beban KPK sudah terlalu berat. Jadi jangan kita tambahin lagi.
Kalau nanti terpilih menjadi Ketua KPK, apa programnya?
Ah, terlalu awal lah mengomentari itu. Wong belum terpilih kok, masa sudah bicara program. Kalaupun ada program, terlalu prematur untuk disampaikan. Saya kan sedang menjalani proses seleksi. Ini pun karena dukungan dan dorongan dari teman-teman anggota DPD dan tokoh-tokoh yang mendorong saya untuk ikut mencalonkan diri.
[RM]