Berita

Wawancara

WAWANCARA

I Wayan Sudirta : Jangan Sombong, Sok Tahu dan Jangan Menggurui

SENIN, 02 AGUSTUS 2010 | 10:01 WIB

Jakarta, RMOL.

Bagi Ketua Ketua Kaukus Anti Korupsi DPD itu bisa masuk 12 besar saja merupakan kebaha­giaan tersendiri. Sebab, calon yang mendaftar sebanyak 133 orang.

“Jangan bicara yakin atau nggak yakin terpilih memimpin KPK. Jabatan seperti ini kan ama­nah. Jadi, kita tunggu saja taha­pan penyeleksian berikutnya,’’ kata I Wayan Sudirta kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, Sabtu (31/7).

Berikut kutipan selengkapnya:

Bagaimana perasaannya ma­suk 12  besar calon Ketua KPK?

Sebenarnya saya belum layak untuk berkomentar, tapi karena ditanya, ya dijawab. Memang ada rasa senang. Sebab, yang men­daftar mula-mula sebanyak 133 orang, kemudian diseleksi men­jadi 85, hingga akhirnya menjadi 12. Jadi, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi dukungan dan doa.

Untuk seleksi berikutnya ba­gaimana?

Masih ada dua proses berikut­nya lagi.  Saya punya keyakinan bahwa Pansel ini akan memilih yang terbaik dari yang baik. Saya percaya mereka sangat obyektif  dalam memilih calon pemimpin sebuah lembaga superbody yang memberantas korupsi yang nota­benenya adalah kejahatan yang luar biasa.

Kok begitu yakin Pansel sa­ngat obyektif dalam menye­leksi?

Ya, yakin dong. Saya sangat yakin bahwa Pansel obyektif dan sungguh-sungguh memilih yang terbaik di antara yang ada. Sia­papun yang terpilih nanti mesti kita dukung bersama-sama. Se­bab, korupsi ini sudah membikin negara kita kocar-kacir.

Berarti Anda nggak yakin ter­pilih ya?

Harusnya jangan tanya yakin dan nggak yakin. Yang penting  siapapun yang terpilih nanti untuk menjalankan amanah, itu harus kita dukung bersama. Ini kan tugas penting dan berat.

Persaingannya semakin ke­tat ya, ada Jimly Asshiddiqie, Bu­syro Muqoddas, dan Bam­bang Widjojanto?

Saya tidak mau mengomentari itu. Yang jelas, calon yang masuk 12 besar bagus-bagus semuanya, sehingga persaingannya semakin ketat. Bahkan yang tidak lolos pun bagus-bagus. Tapi Pansel pu­nya kriteria tersendiri dan punya cara untuk menilainya. Jadi, tidak layak bicara optimistis dan pe­simis terhadap calon yang ada. Kita serahkan saja kepada Pansel untuk memilih yang paling layak dan paling tepat.

Maksudnya tidak perlu som­bong begitu?

Ya, kita jangan sombong, ja­ngan menggurui, sok tahu, dan jangan paling mampu setelah masuk 12 besar.

O ya, bagaimana strateginya agar tugas berat sebagai Ketua KPK bisa dilaksanakan?

Hal pertama yang diperhatikan adalah bagaimana strategi dan aksi yang akan dicanangkan. Se­lain itu perlu mencontoh keberha­silan KPK di Hong Kong dan Singa­pura. Mungkin pola di Singapura yang perlu dipelajari mendalam. Sebab, situasinya lebih mirip dengan Indonesia.

Apa ada yang lain?

Siapa pun nanti yang terpilih, hendaknya tidak memikirkan hal-hal lain, kecuali melakukan tugas sebagai Ketua KPK, yakni ba­gai­mana agar kasus-kasus ko­rupsi bisa diungkap. Sebab, kalau ada keinginan yang lain-lain, tentu akan menjadi beban bagi KPK.

Maksudnya keinginan lain-lain itu apa?

Misalnya kepingin memanfaat­kan jabatan demi kepentingan diri sendiri, kelompok atau kolega­nya. Kalau ada misi seperti itu, pasti membebani KPK.

Artinya kalau dipercaya me­mim­pin KPK harus tulus meng­abdi kepada bangsa, ne­gara, dan masyarakat ya?

Ya betul. Yang penting bagai­mana kita bisa mengabdi pada negara dengan sisa hidup yang ada. Beban KPK sudah terlalu berat. Jadi jangan kita tambahin lagi.

Kalau nanti terpilih menjadi Ke­tua KPK, apa programnya?

Ah, terlalu awal lah mengo­men­tari itu. Wong belum terpilih kok, masa sudah bicara program. Kalaupun ada program, terlalu prematur untuk disampaikan. Saya kan sedang menjalani pro­ses seleksi. Ini pun karena du­kungan dan dorongan dari teman-teman anggota DPD dan tokoh-tokoh yang mendo­rong saya untuk ikut mencalonkan diri.

[RM]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya