Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dalam Indonesia-EU Business Forum 2026 di Brussels, Belgia. Penandatanganan dilakukan Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif dan Chairman sekaligus Founder Avesta Holding, Prof. Dr. Eng. Noshin Omar, disaksikan Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO BPI Danantara, Rosan P. Roeslani.
CEO BPI Danantara Rosan P. Roeslani mengatakan, kemitraan ini menjadi langkah Indonesia memperluas akses investasi dan transfer teknologi dari Eropa untuk mendorong transformasi industri mineral menuju manufaktur berteknologi tinggi.
“Kemitraan ini menandai langkah proaktif Indonesia dalam melakukan diversifikasi akses investasi dan transfer teknologi dari Eropa guna mendorong transformasi industri mineral menuju manufaktur berteknologi tinggi,” ujar Rosan, dikutip Minggu, 8 November 2026.
Melalui kerja sama ini, IBC dan Avesta akan mengembangkan teknologi SSB milik Avesta dari tingkat kesiapan teknologi (Technology Readiness Level/TRL) 7 menuju tahap komersialisasi atau TRL 9. Kedua perusahaan juga menerapkan prinsip kepemilikan bersama atas hak kekayaan intelektual (HAKI) yang dihasilkan selama proyek.
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengatakan, kolaborasi tersebut dapat mempercepat penguasaan teknologi baterai generasi baru tanpa harus memulai riset dari nol.
“Mengembangkan teknologi SSB dari nol secara mandiri membutuhkan biaya riset yang masif dan waktu yang sangat lama. Kolaborasi dengan Avesta merupakan shortcut (jalan pintas) strategis. Avesta telah mengembangkan selama 15 tahun hingga skala pilot project, sehingga IBC dapat memangkas waktu pengembangan (development time) secara signifikan untuk langsung masuk ke fase demonstrasi lalu komersialisasi TRL 9,” jelas Aditya.
Teknologi SSB dinilai memiliki potensi besar karena menggunakan material elektrolit padat sebagai pengganti elektrolit cair. Teknologi ini diproyeksikan meningkatkan keselamatan baterai, kepadatan energi, jarak tempuh kendaraan listrik, serta mendukung pengisian daya lebih cepat.
Permintaan global terhadap SSB diproyeksikan mencapai 740 GWh pada 2035. Teknologi ini juga berpotensi menggunakan nikel kadar tinggi sebagai material katoda, sehingga mendukung penguatan hilirisasi nikel nasional.
“Kerja sama ini merupakan upaya IBC dalam meningkatkan kepemilikan HAKI, terutama teknologi baru baterai berbasis nikel untuk menjaga relevansi hilirisasi nikel yang menjadi program pemerintah melalui MIND ID Group,” ungkap Aditya.
Dalam waktu dekat, kerja sama tersebut akan diwujudkan melalui pembangunan *demo plant* di Indonesia. Fasilitas ini difokuskan pada optimalisasi sistem dan penurunan biaya produksi agar teknologi SSB semakin dekat dengan tahap komersialisasi.
Pengembangan SSB juga akan melengkapi riset baterai yang telah dilakukan IBC bersama akademisi, termasuk Institut Teknologi Bandung dan Universitas Sebelas Maret. Teknologi tersebut diarahkan untuk mendukung ekosistem Motor Listrik Nasional (Molinas) serta kebutuhan sektor pertahanan, seperti drone dan kapal cepat.
Selain pengembangan SSB, kedua perusahaan juga menjajaki investasi BESS untuk memperluas pasar manufaktur baterai di dalam negeri maupun Eropa.
“Kerja sama SSB merupakan development dan pengembangan BESS merupakan investment yang kami laksanakan dalam satu waktu untuk pengembangan investasi manufaktur baterai yang dapat menjangkau pasar Eropa dan domestik,” tutup Aditya.
IBC berdiri pada 19 April 2021 dan berperan mengintegrasikan rantai pasok baterai nasional dari pengolahan material, manufaktur sel hingga daur ulang. Perusahaan saat ini memiliki kapasitas produksi baterai EV dan BESS sebesar 6,9 GWh di Karawang, Jawa Barat.
BERITA TERKAIT: