Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 07 November 2026, 08:05 WIB
Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur
Ilustrasi (Artificial Intelligence)
Kecil Besar
rmol news logo Wall Street mencoba bangkit setelah tekanan besar yang menghantam saham-saham teknologi, meskipun belum cukup mengangkat kinerja mingguan Nasdaq yang kembali mencatat penurunan untuk pekan keempat berturut-turut.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 6 November 2026, waktu setempat, indeks Komposit Nasdaq naik 1,1 persen menjadi 24.579,43. S&P 500 juga menguat 0,32 persen atau 23 poin ke posisi 7.376,86. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average melemah 0,46 persen atau 237 poin ke level 51.285,73.

Meski menguat pada akhir pekan, ketiga indeks utama tersebut masih mencatatkan kinerja negatif sepanjang pekan. Nasdaq turun 3,4 persen, S&P 500 terkoreksi 2,7 persen, sedangkan Dow Jones melemah 0,9 persen. Nasdaq bahkan telah memasuki wilayah koreksi, setelah turun sekitar 10 persen dari rekor tertingginya sebulan lalu.

Pemulihan terutama ditopang oleh saham-saham teknologi dan semikonduktor. Indeks semikonduktor Philadelphia (SOX) melonjak 4,2 persen. Saham Nvidia naik 2,8 persen, Advanced Micro Devices (AMD) melesat 11 persen, sementara Sandisk menguat hampir 4 persen. Tesla juga naik 4,2 persen dan SpaceX melonjak 8,6 persen.

Kenaikan tersebut menunjukkan investor belum sepenuhnya meninggalkan saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), meskipun kekhawatiran terhadap prospek investasi dan valuasi sektor tersebut masih membayangi pasar. Kepala Investasi Truist Advisory Services Keith Lerner menilai AI masih menjadi tema utama yang menopang tren penguatan pasar saham saat ini.

Di luar sektor teknologi, pergerakan saham perusahaan individual juga cukup beragam. Saham Atlassian anjlok 16 persen setelah melaporkan kinerja kuartalan, sedangkan Airbnb melonjak 12 persen setelah menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan sepanjang 2026.

Sentimen pasar juga mendapat dorongan dari laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) Oktober yang lebih baik dari perkiraan. Jumlah tenaga kerja nonpertanian bertambah lebih besar dari ekspektasi, sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,1 persen. Namun, data tersebut justru memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve berpeluang menaikkan suku bunga pada Desember. Menurut data LSEG, peluang kenaikan suku bunga diperkirakan mencapai 78 persen, naik dari sebelumnya 70 persen.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA