Meski sama-sama bergerak di sektor pertambangan, keduanya memiliki fokus bisnis berbeda. BUMI merupakan perusahaan pertambangan batu bara melalui anak usahanya, terutama PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia. Sementara BRMS bergerak di bidang pertambangan dan pengembangan mineral, terutama emas, tembaga, seng, dan timbal.
Pantauan
RMOL, berdasarkan data perdagangan hingga pukul 13.05 WIB, saham BUMI berada di level 118. Volume transaksi tercatat mencapai 1,42 miliar saham dengan nilai sebesar Rp161,89 miliar. Frekuensi perdagangannya mencapai 17.887 kali.
Posisi harga tersebut tidak berubah dibandingkan penutupan perdagangan Kamis, 5 November 2026, di level 118.
Pada perdagangan sehari sebelumnya, BUMI mencatat volume transaksi sebanyak 2,60 miliar saham dengan nilai mencapai Rp313,10 miliar dan frekuensi 33.888 kali.
Hingga perdagangan Jumat siang, volume transaksi BUMI telah mencapai sekitar 54,8 persen dari total volume perdagangan sehari sebelumnya. Sementara nilai transaksinya setara 51,7 persen dari nilai perdagangan Kamis.
Sementara itu, saham BRMS diperdagangkan pada level 328 berdasarkan data pukul 13.31 WIB. Emiten pertambangan mineral ini membukukan volume transaksi sebanyak 112,31 juta saham, dengan nilai mencapai Rp34,75 miliar dan frekuensi 5.477 kali.
Harga tersebut juga tidak berubah dibandingkan posisi penutupan perdagangan Kamis 5 November 2026 di level 328.
Pada perdagangan sehari sebelumnya, BRMS mencatat volume transaksi sebanyak 328,88 juta saham dengan nilai perdagangan Rp107,87 miliar dan frekuensi 14.899 kali.
Volume transaksi BRMS hingga Jumat siang telah mencapai sekitar 34,2 persen dari total volume perdagangan sehari sebelumnya. Adapun nilai transaksinya setara 32,2 persen dari nilai perdagangan Kamis.
Jika dibandingkan, aktivitas perdagangan BUMI masih jauh lebih besar daripada BRMS. Volume saham BUMI yang diperdagangkan mencapai sekitar 12,7 kali volume BRMS, sedangkan nilai transaksinya sekitar 4,7 kali lebih besar.
Perbedaan tersebut menunjukkan intensitas perdagangan BUMI lebih tinggi dalam periode pengamatan. Namun, besarnya volume dan nilai transaksi tidak serta-merta mencerminkan kinerja fundamental maupun prospek investasi yang lebih baik.
Dari sisi hubungan bisnis, BUMI juga tercatat memiliki sekitar 20,09 persen saham BRMS. Meski demikian, keduanya memiliki fokus usaha berbeda dan eksposur terhadap komoditas yang tidak sama.
BUMI lebih berkaitan dengan dinamika industri batu bara, sedangkan BRMS memiliki eksposur pada pertambangan mineral, terutama emas dan tembaga.
BERITA TERKAIT: