Pelemahan saham teknologi di Wall Street yang merembet ke pasar Asia turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), bahkan membuat indeks bergerak semakin dalam di zona merah.
Pantauan
RMOL, IHSG dibuka melemah ke level 4.955,83, turun 1,48 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di 5.030,26. Berdasarkan data perdagangan terbaru sekitar pukul 09.28 WIB, penurunan indeks semakin dalam hingga mencapai 1,89 persen atau berada di level 4.955,83.
Sepanjang perdagangan pagi, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 4.969 dan terendah 4.927,45. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp1,742 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 5,308 miliar saham. Frekuensi transaksi mencapai 253.500 kali.
Tekanan jual terlihat mendominasi perdagangan. Sebanyak 525 saham bergerak melemah, jauh melampaui 124 saham yang menguat. Sementara itu, 314 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar juga bergerak di zona merah. Saham Bank Central Asia (BBCA) turun 1,46 persen ke Rp5.050, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) melemah 0,37 persen ke Rp2.700, sedangkan Bank Mandiri (BMRI) terkoreksi 0,83 persen ke Rp3.580. Saham Bayan Resources (BYAN) bahkan turun 2,04 persen ke Rp8.400.
Dari dalam negeri, investor mencermati pengumuman cadangan devisa Indonesia periode Oktober 2026. Pada bulan sebelumnya, cadangan devisa tercatat sebesar 146,3 miliar Dolar AS. Pasar juga menantikan data indeks harga properti kuartal III-2026 yang sebelumnya tumbuh 1,32 persen secara tahunan.
Sementara dari Amerika Serikat (AS), perhatian tertuju pada data tenaga kerja nonpertanian atau nonfarm payrolls Oktober. Jumlah penambahan tenaga kerja sebelumnya menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar, dengan perkiraan tingkat pengangguran tetap di 4,2 persen. Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi arah suku bunga Federal Reserve (The Fed), pergerakan dolar AS, serta aliran modal asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
BERITA TERKAIT: