Penguatan ini langsung mendongkrak performa emas spot yang ditutup menanjak 0,72 persen ke level 4.089,21 Dolar AS per ons.
Catatan positif serupa juga dicetak oleh kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember 2026 yang melompat sekitar 0,99 persen hingga bertengger di angka 4.113,5 Dolar AS per ons.
Dinamika positif di panggung internasional tersebut turut menjalar ke pasar domestik. Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk atau Antam pada hari yang sama ikut bergerak naik mengikuti tren penguatan harga emas dunia. Tercatat, harga pembelian emas Antam mengalami kenaikan sebesar Rp3.000 menjadi Rp2.557.000 per gram.
Sebelum mengalami sedikit penyesuaian di sesi perdagangan Amerika Serikat (AS), harga logam mulia sempat mencatatkan lonjakan fantastis hingga menyentuh level 4.137 Dolar AS per ons yang merupakan titik tertingginya sejak 22 Oktober. Kenaikan ini sempat ditopang oleh pelemahan nilai tukar Dolar AS yang merosot mendekati level terendah satu bulan, serta penurunan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun ke kisaran 4,84 persen.
Laju penguatan emas perlahan menyempit setelah Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, melontarkan pernyataan tegas mengenai perlunya mempertahankan suku bunga yang ketat guna menjinakkan laju inflasi.
Sentimen pengetatan moneter ini semakin diperkuat oleh data ekonomi domestik AS yang menunjukkan klaim pengangguran mingguan turun ke angka 189.000, jauh lebih baik dari proyeksi pasar di level 197.000, sehingga kian memanaskan spekulasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Desember mendatang.
Pasar global juga diwarnai oleh langkah Bank of England yang resmi menaikkan suku bunga. Di sisi lain, harga minyak mentah jenis WTI berhasil bangkit kembali ke kisaran 91 Dolar AS per barel setelah sempat mengalami keanjlokan sehari sebelumnya.
BERITA TERKAIT: