Pasang PLTS Atap, CCEP Indonesia Perkuat Transformasi Industri Hijau

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Rabu, 04 November 2026, 15:27 WIB
Pasang PLTS Atap, CCEP Indonesia Perkuat Transformasi Industri Hijau
Customer Service & Supply Chain Director Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP) Linda Christina Daryanto (Foto: RMOL/Reni Erina)
Kecil Besar
rmol news logo Masa depan industri tidak lagi hanya ditentukan oleh jenis produk yang dihasilkan, tetapi juga bagaimana proses produksinya dijalankan. 

Efisiensi energi, pengurangan emisi karbon, dan pemanfaatan energi terbarukan kini menjadi bagian penting dalam membangun industri yang berkelanjutan.

Hal tersebut tercermin dalam langkah Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia) yang meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di fasilitas produksinya, Bekasi 2 Plant. Instalasi ini menjadi bagian dari upaya perusahaan mengintegrasikan energi bersih ke dalam kegiatan operasional manufaktur.

Customer Service & Supply Chain Director Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP) Linda Christina Daryanto mengatakan bahwa keberlanjutan tidak cukup diwujudkan melalui komitmen jangka panjang, tetapi harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam aktivitas produksi sehari-hari.

"Dalam keseharian kami melakukan proses operasi manufaktur, kami melihat masa depan industri tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita produksi, tetapi juga oleh bagaimana cara kita memproduksinya," ujar Linda dalam sambutannya pada acara peresmian, Rabu 4 November 2026.

Menurutnya, energi merupakan komponen penting untuk menjaga keandalan dan efisiensi operasional industri. Namun, sektor manufaktur juga memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam pengurangan emisi dan mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Karena itu, pemasangan panel surya di Bekasi 2 Plant menjadi langkah konkret CCEP Indonesia dalam mengurangi emisi dari kegiatan operasionalnya.

Fasilitas tersebut merupakan instalasi PLTS Atap keempat CCEP Indonesia, setelah sebelumnya diterapkan di Bekasi 1 Plant, Mega Plant Pasuruan, dan pabrik Semarang.

Linda menekankan, keberhasilan transisi energi tidak semata-mata bergantung pada teknologi maupun investasi, tetapi juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

"Bagi kami, ini adalah esensi dari transisi energi: bukan hanya tentang teknologi, bukan hanya tentang investasi, tetapi mengenai kolaborasi," katanya.

Kolaborasi tersebut diwujudkan bersama PT Cikarang Listrindo Tbk, yang menjadi mitra penyedia solusi energi bersih bagi fasilitas produksi CCEP Indonesia. Dalam kerja sama ini, CCEP Indonesia menyediakan area dan fasilitas untuk instalasi panel surya, sementara Cikarang Listrindo menghadirkan teknologi serta infrastruktur pendukung pemanfaatan energi surya.

Direktur Cikarang Listrindo, Christanto Pranata, mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan industri terhadap energi yang lebih bersih.

"Keberlanjutan sekarang ini bukan lagi menjadi sebuah pilihan, tetapi menjadi sebuah tema sentral daripada seluruh organisasi, tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia," ujarnya.

Dia menegaskan, upaya mewujudkan industri berkelanjutan tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan kerja sama antara penyedia energi, pengguna energi, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.

"Karena kami menyadari, keberlanjutan tidak dapat dilakukan oleh salah satu pihak saja, tetapi harus dengan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan yang ada," kata Christanto.

Dari sisi kapasitas, PLTS Atap di Bekasi 2 Plant memiliki daya sebesar 1,4 megawatt peak (MWp). Fasilitas ini diperkirakan mampu menghasilkan listrik terbarukan sekitar 1,76 gigawatt hour (GWh) per tahun.

Produksi energi bersih tersebut setara dengan pengurangan emisi gas rumah kaca sekitar 1.180 ton karbon dioksida (CO2) setiap tahun. Besaran pengurangan emisi itu diibaratkan setara dengan kemampuan hampir 20.000 pohon menyerap karbon selama 10 tahun.

Christanto menilai, kontribusi tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan di sektor manufaktur sekaligus mendukung target pemerintah mencapai Net Zero Emission pada 2060.

Dia berharap proyek ini tidak berhenti sebagai inisiatif tunggal, melainkan menjadi fondasi bagi kerja sama yang lebih luas dalam pengembangan energi bersih.

Transformasi industri menuju praktik yang lebih berkelanjutan bukan hanya berkaitan dengan produk yang sampai ke tangan konsumen, tetapi juga jejak lingkungan yang ditinggalkan selama proses pembuatannya. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA