Temuan tersebut berasal dari survei HSBC bertajuk Redefining Treasury in Asia Pacific: Voices of Treasury 2026. Angka optimisme di Indonesia bahkan melampaui rata-rata Asia Pasifik yang mencapai 72 persen.
Country Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia, Anne Suhandojo, menjelaskan bahwa AI dapat membantu perusahaan mempercepat pekerjaan, mengolah data, hingga mempermudah proses pembayaran dan penagihan.
"84 persen dari perusahaan yang kami survei menyatakan bahwa AI ini akan sangat berguna untuk treasury operation dalam tiga tahun ke depan," ujar Anne dalam pemaparan kepada insan pers di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.
Adopsi AI juga mulai terlihat dalam operasional bisnis. Sebanyak 93 persen responden yang disurvei telah menggunakan AI, dengan 55 persen memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas dan 34 persen menggunakan AI agent untuk mengotomatisasi pekerjaan.
Meski demikian, perusahaan masih perlu memperkuat kesiapan sistem agar manfaat AI bisa dirasakan secara maksimal. Sebanyak 80 persen responden menyebut integrasi AI dengan sistem yang sudah ada sebagai tantangan utama.
Menurut Anne, perusahaan dengan data yang rapi dan terpusat akan lebih mudah memanfaatkan AI untuk menganalisis informasi dan memberikan rekomendasi.
"AI sebenarnya hanya tools. Tapi perusahaan yang sudah secara database bagus, rapi, terkonsolidasi akan sangat membantu," jelasnya.
Anne menambahkan, AI dapat membantu analisis dan memberikan rekomendasi, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan campur tangan manusia.
Karena itu, perusahaan perlu membangun fondasi teknologi dan tata kelola yang memadai agar penerapan AI memberikan manfaat nyata bagi bisnis.
BERITA TERKAIT: