Persaingan ini dinilai dapat mempercepat realisasi program nuklir Indonesia yang telah dirintis sejak puluhan tahun lalu.
Sebelumnya, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyatakan negaranya mengkaji energi nuklir sebagai sumber listrik alternatif setelah pasokan gas dari Indonesia dipangkas.
Sementara itu, Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menyatakan pemerintah mengkaji pembangunan PLTN di Batam, Kepulauan Riau.
Guru Besar bidang Ilmu Fisika Non-Proliferasi Nuklir Institut Teknologi Bandung (ITB), Sidik Permana mengatakan, rencana Singapura mengembangkan energi nuklir muncul di tengah kebutuhan mengatasi defisit energi akibat pemangkasan pasokan gas dari Indonesia.
“Jadi ada efek head to head negara tetangga dalam satu program strategisnya yaitu PLTN,” kata Sidik kepada
RMOL, Kamis, 29 Oktober 2026.
Menurutnya, persaingan tersebut dapat menjadi momentum untuk mempercepat pembangunan PLTN di Indonesia. Apalagi, Indonesia telah memiliki fondasi riset, infrastruktur reaktor, dan sumber daya manusia nuklir yang lebih matang dibandingkan Singapura.
Indonesia memulai riset nuklir sejak 1954 dan mengoperasikan reaktor nuklir pertama di Bandung pada 1965. Saat ini, Indonesia memiliki tiga reaktor riset serta ribuan lulusan bidang Fisika Nuklir, Teknik Nuklir, dan Rekayasa Nuklir.
“Jadi kalau kesiapan Indonesia dengan membangun ekosistem nuklir sudah terbangun, akan tetapi keputusan tetap berada di top pimpinan negara ini,” kata Sidik.
Program PLTN Indonesia sendiri telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, dengan target kapasitas awal 500 megawatt listrik (MWe) pada 2032. Kapasitas tersebut direncanakan meningkat bertahap hingga 35-44 gigawatt listrik (GWe) pada 2060.
Sementara itu, Singapura dinilai masih memiliki keterbatasan dalam fasilitas riset dan pengembangan teknologi nuklir, serta belum memasukkan nuklir secara khusus dalam perencanaan energinya.
Sidik menambahkan, persaingan pengembangan PLTN juga berpotensi melibatkan kekuatan teknologi nuklir global, termasuk Amerika Serikat, Uni Eropa, Korea Selatan, Jepang, Rusia, dan China.
Kondisi tersebut membuat aspek geopolitik, pemilihan teknologi, serta rantai pasok menjadi semakin penting dalam pengembangan PLTN di kawasan.
“Semoga ini peluang cukup baik bagi percepatan implementasi PLTN di Indonesia dengan tentunya aspek kehati-hatian, pertimbangan teknologi dan aspek geopolitik serta ekosistem dan
supply chain teknologi dan penguatan industri dalam negeri bisa ditingkatkan,” pungkas Sidik.
BERITA TERKAIT: