Mengutip data Bloomberg, Rupiah melemah 28 poin atau 0,15 persen ke Rp18.184 per Dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pergerakan Rupiah dan mata uang kawasan masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah.
"Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas 115 Dolar AS per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan," kata Erwin dalam keterangan tertulisnya.
Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat juga disebut meningkat, yang menyebabkan arus keluar dari pasar emerging market, termasuk Indonesia.
"Sentimen risk-off yang memburuk mendorong penguatan Dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara emerging markets. Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan yield obligasi," jelas Erwin.
Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut menekan aliran dana.
"Kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan," tambah dia.
Erwin menjelaskan, secara umum pergerakan Rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan. Namun, secara bulanan, Rupiah telah melemah 1,15 persen.
Di tengah tekanan tersebut, cadangan devisa Indonesia disebut masih terjaga sebesar 146,3 miliar Dolar AS hingga akhir September 2026.
Erwin menegaskan, Bank Indonesia akan terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik serta mempertahankan stabilitas nilai tukar Rupiah agar tetap sesuai dengan fundamentalnya.
"Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan spot. BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," jelas Erwin.
Selain intervensi di pasar keuangan, BI juga berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, serta pihak terkait lainnya untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
BERITA TERKAIT: