Langkah ini sekaligus mendorong pemanfaatan potensi daerah untuk pengembangan energi ramah lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Pengembangan SAF berbasis minyak jelantah menjadi salah satu upaya untuk menghubungkan inovasi industri energi dengan pemeliharaan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sebab, minyak jelantah memiliki nilai tambah sebagai bahan baku energi, serta membuka peluang ekonomi bagi kelompok masyarakat yang terlibat.
Gibran menekankan inovasi energi perlu memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Oleh sebab itu, pengembangan SAF harus diiringi dengan pemberdayaan warga setempat agar pengelolaan minyak jelantah tidak hanya mendukung kebutuhan industri, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi para pengumpul dan pengelolanya.
“Pengembangan SAF harus berjalan bersama pemberdayaan masyarakat. Sehingga minyak jelantah yang dikelola ibu-ibu melalui bank sampah dapat memiliki nilai ekonomi dan terhubung dengan industri nasional,” ujar Wapres.
Kilang Cilacap merupakan salah satu fasilitas strategis Pertamina dengan kapasitas pengolahan sebesar 348 ribu barel per hari (MBSD), atau sekitar 31 persen dari total kapasitas kilang Pertamina di Indonesia.
Di kilang ini, pengembangan SAF dilakukan melalui skema co-processing, yakni mengolah minyak jelantah (used cooking oil/UCO) bersama kerosin pada unit TDHT (Treated Distillate Hydro Treating). Adapun unit TDHT RU IV Cilacap telah berstatus onstream commercial, dengan estimasi produksi bersih SAF sekitar 5.075 kiloliter per tahun.
Melalui pengembangan SAF berbasis minyak jelantah, sinergi antara industri, pemeliharaan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat diharapkan dapat terus diperkuat.
Dengan demikian, inovasi energi tidak hanya berkontribusi pada pengembangan bahan bakar penerbangan yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
BERITA TERKAIT: