Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir mengatakan, total permintaan yang masuk mencapai 4,6 miliar dolar AS atau setara Rp81,88 triliun, hampir tiga kali lipat dari nilai obligasi yang ditawarkan.
Menurut Pandu, tingginya minat investor tersebut mencerminkan respons positif pasar internasional terhadap penerbitan obligasi Danantara. Penetapan harga yang kompetitif menjadi salah satu faktor yang menarik minat investor.
"(Ini) sangat menarik di pertengahan tahun, tetapi yang dapat saya sampaikan tentang obligasi ini adalah harganya sangat sesuai dengan peringkat utang Indonesia," kata Pandu dalam acara Technology Innovation Investment Forum (TIIF) 2026, di Fairmont Hotel, Jakarta pada Senin, 26 Oktober 2026.
Berdasarkan paparan Danantara, obligasi global tersebut diterbitkan dalam dua seri, masing-masing senilai 750 juta Dolar AS.
Seri pertama memiliki tenor lima tahun dengan kupon 5,35 persen dan jatuh tempo pada 2031. Sementara seri kedua memiliki tenor 10 tahun dengan kupon 5,95 persen dan jatuh tempo pada 2036.
Pandu menjelaskan, imbal hasil obligasi Danantara memiliki selisih atau spread sebesar 34 basis poin di atas surat utang pemerintah Indonesia untuk tenor lima tahun dan 32 basis poin untuk tenor 10 tahun.
Menurutnya, spread yang relatif tipis tersebut menunjukkan bahwa obligasi Danantara ditawarkan dengan harga yang kompetitif dibandingkan surat utang pemerintah.
"Selisihnya sekitar 30 basis poin di atas imbal hasil surat utang pemerintah. Untuk tenor obligasi 5 tahun dan 10 tahun, harganya sangat bagus, sangat sesuai dengan suku bunga pemerintah," kata Pandu.
Dari sisi sebaran investor, sekitar 75 persen permintaan obligasi berasal dari Eropa dan Timur Tengah, sedangkan investor Asia menyumbang sekitar 25 persen.
Pandu juga menyebut investor Amerika Serikat berkontribusi sebesar 50 persen dari total permintaan yang masuk.
"Ada yang mengatakan bahwa orang-orang internasional tidak menganggapnya menarik. Padahal, nilai obligasi yang (masuk) hampir empat kali lipat lebih besar dari nilai sebenarnya," kata Pandu.
Sebelum menerbitkan obligasi tersebut, Danantara menggelar rangkaian roadshow di sejumlah kota di Asia dan Amerika Serikat untuk menjaring minat investor global.
Penerbitan obligasi dilakukan di tengah dinamika pasar keuangan global, mulai dari pergerakan imbal hasil US Treasury, inflasi, konflik di Timur Tengah, hingga kondisi pasar negara berkembang.
BERITA TERKAIT: