Beda dengan MSCI, FTSE Russell Pertahankan Status Secondary Emerging Market RI

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/alifia-dwi-ramandhita-1'>ALIFIA DWI RAMANDHITA</a>
LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA
  • Senin, 26 Oktober 2026, 14:16 WIB
Beda dengan MSCI, FTSE Russell Pertahankan Status Secondary Emerging Market RI
Direktur BEI Jeffrey Hendrik. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)
Kecil Besar
rmol news logo Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan Indonesia tetap masuk dalam klasifikasi secondary emerging market oleh penyedia indeks global FTSE Russell tanpa masuk daftar pantauan (watchlist).

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, penegasan tersebut disampaikan FTSE dalam pertemuan daring dengan BEI pada Jumat 23 Oktober 2026. Pertemuan itu merupakan bagian dari komunikasi rutin bursa dengan penyedia indeks global.

“FTSE menyampaikan apresiasi atas apa yang sudah dilakukan di pasar modal Indonesia dan FTSE menegaskan bahwa di dalam report mereka di tanggal 6 Oktober secara jelas sudah disampaikan bahwa FTSE menetapkan Indonesia di secondary emerging market,” kata Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026.

Menurut Jeffrey, reformasi pasar modal Indonesia terus berjalan dengan mencakup tiga aspek utama, yakni transparansi, likuiditas, dan pengawasan (surveillance).

Ia menilai keputusan FTSE mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi *secondary emerging market tanpa memasukkannya ke dalam watchlist menjadi konfirmasi atas berbagai langkah reformasi yang telah dilakukan.

“Bahkan, Indonesia tidak dimasukkan ke dalam watchlist, dan tentu itu adalah konfirmasi yang sangat kuat yang disampaikan oleh FTSE dan apresiasi yang diberikan atas reformasi yang kita lakukan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi menyampaikan bahwa pasar saham Indonesia menunjukkan ketahanan, di tengah tekanan dan ketidakpastian setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka peluang menurunkan klasifikasi pasar modal RI dari emerging market ke standalone market.

Hasan mengatakan kinerja saham selam seminggu menjadi yang terbaik di antara indeks-indeks utama dunia pada periode perdagangan 19-23 Oktober 2026.

“Bursa Efek Indonesia sebagai indeks dengan kinerja mingguan terbaik di antara indeks-indeks utama dunia,” ujar Hasan.

Ia menjelaskan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 4,9 persen sepanjang pekan lalu, setelah sempat mengalami tekanan hingga menyentuh level terendah 4.907,37 pada Senin 19 Oktober 2026.

IHSG kemudian berbalik menguat dan menutup perdagangan Jumat 23 Oktober 2026 di level 5.439,2.

Menurut Hasan, perkembangan tersebut menunjukkan kemampuan pasar modal domestik untuk beradaptasi menghadapi gejolak, sekaligus menjadi modal untuk melanjutkan agenda reformasi.

“Perkembangan ini memberikan alasan bagi kita untuk tetap optimis, sekaligus terus waspada dan fokus bekerja lebih keras dalam memperkuat kepercayaan dan menggulirkan dan menuntaskan agenda-agenda reformasi integritas di pasar modal Indonesia,” pungkasnya.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA