Kegiatan yang dihadiri 240 orang pendonor ini sekaligus sebagai bagian dari peringatan 22 Tahun DPD RI dan Milad 9 Tahun Bang Japar.
"Semangat Sumpah Pemuda bukan hanya tentang bagaimana kita menjaga persatuan, tetapi juga bagaimana persatuan itu melahirkan kepedulian dan aksi nyata," kata Fahira.
Senator Jakarta ini mengungkapkan, donor darah bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan bagian penting dalam menjaga ketahanan sistem kesehatan, terutama di Jakarta yang memiliki jumlah penduduk besar sekaligus menjadi pusat rujukan layanan kesehatan nasional.
Ketersediaan darah yang memadai sangat dibutuhkan pasien talasemia, kanker, anemia berat, ibu melahirkan dengan komplikasi, korban kecelakaan, serta pasien yang menjalani operasi dan membutuhkan transfusi.
Menurut Fahira, kebutuhan darah tidak mengenal waktu. Sementara itu, darah memiliki masa simpan terbatas sehingga ketersediaannya harus terus dijaga melalui partisipasi pendonor sukarela secara rutin.
Oleh karena itu, kegiatan donor darah tidak boleh hanya dilakukan ketika terjadi kekurangan stok atau saat ada permintaan mendesak dari pasien.
"Di balik setiap kantong darah, ada harapan seseorang untuk sembuh, ada keluarga yang menunggu orang tercintanya pulang, dan ada kehidupan yang harus kita perjuangkan bersama," kata Fahira.
Bahkan, kata Fahira, satu kantong darah berpotensi membantu hingga tiga pasien melalui pemisahan komponen darah. Karena itu, para pendonor adalah pahlawan kemanusiaan yang sesungguhnya.
Untuk itu, Fahira kembali mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari instansi pemerintah, BUMN/BUMD, perusahaan swasta, organisasi kemasyarakatan, komunitas, hingga kelompok pemuda untuk menjadikan donor darah sebagai agenda rutin.
BERITA TERKAIT: