Langkah tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan pasokan dalam negeri, terutama bagi kebutuhan bahan baku industri hilirisasi petrokimia.
Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, sekitar 70 persen produksi gas nasional saat ini dimanfaatkan untuk konsumsi domestik, termasuk mendukung kegiatan hilirisasi.
“Ekspor kita kalau di gas kan total produksi kita 100 persen, itu masih ada kurang lebih sekitar 30 persen yang kita ekspor. 70 persen-nya itu untuk konsumsi domestik, termasuk di dalamnya adalah untuk produk-bahan baku hilirisasi,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jumat, 23 Oktober 2026.
Menurut Bahlil, peninjauan ulang alokasi diperlukan seiring dengan rencana pemerintah memperluas pengembangan industri petrokimia. Pasalnya, gas bumi menjadi salah satu bahan baku utama yang dibutuhkan sektor tersebut.
“Ke depan, saya akan mencoba untuk melakukan exercise ulang agar mengoptimalkan untuk konsumsi dalam negeri, karena ke depan kita mendorongkan industri hilirisasi di petrokimia. Bahan bakunya adalah gas,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan domestik tercatat mencapai 74,55 persen dari total alokasi. Pasokan tersebut digunakan untuk berbagai sektor, mulai dari industri, kelistrikan, pupuk, hingga jaringan gas kota.
Sementara itu, ekspor gas bumi Indonesia tercatat sebesar 1.352,9 BBtud atau sekitar 25,39 persen dari total alokasi.
Pengiriman tersebut terdiri dari gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) sebesar 998,77 BBtud dan gas melalui pipa sebanyak 354,13 BBtud.
BERITA TERKAIT: