Menurut Inggard, penyebab kebakaran umumnya gara-gara korsleting listrik, pembakaran sampah dan kelalaian membuang puntung rokok.
"Apalagi sekarang sedang musim kemarau dan sumber air menipis," kata Inggard kepada wartawan, Jumat 23 Oktober 2026.
Terkait korsleting listrik yang menjadi penyebab dominan kebakaran di Jakarta, Inggard menilai akibat banyaknya warga yang mencuri listrik.
"Masyarakat di perumahan padat penduduk umumnya mengutak-atik listriknya. Itu termasuk pencurian listrik. Terlebih banyak rumah semi permanen yang mudah terbakar," kata Inggard.
Untuk itulah, Inggard mendorong Pemprov DKI Jakarta bersama PT PLN agar gencar melakukan razia sambungan listrik di lima kawasan ibukota.
"Banyak material listrik yang dipakai bukan standar, banyak tumpukan sambungan listrik. Listrik di kawasan padat itu kebanyakan cantolan, ditumpuk-tumpuk," kata Inggard.
Untuk memberikan efek jera, Inggard mendorong aparat kepolisian agar turun tangan memproses pelaku pencurian listrik.
Selain penertiban sambungan listrik, Inggard mendorong aparat kelurahan, RT dan RW rajin melakukan sosialisasi terkait bahaya pencurian listrik dan pemakaian material listrik standar SNI.
"Efektifkan sosialisasi agar masyarakat makin waspada bahaya kebakaran, terutama di permukiman padat," kata Inggard.
Di sisi lain, Inggard mengimbau masyarakat tidak membakar sampah sembarangan yang berpotensi memicu kebakaran.
"Ingat sekarang sedang musim kemarau," kata Inggard.
Selain itu, Inggard turut menyoroti kondisi personel Dinas Penanggulangan Kebakaran (Gulkarmat) yang terbatas.
Jakarta membutuhkan sekitar 10.000 hingga 11.000 personel pemadam kebakaran untuk melayani seluruh wilayah kota.
Namun jumlah petugas yang tersedia di lapangan hanya sekitar 3.700 hingga 4.000 personel.
Dengan demikian, Dinas Gulkarmat masih kekurangan sekitar 7.000 hingga 7.300 personel damkar.
"Meski kekurangan personel, sejauh ini respons petugas damkar cukup cepat untuk sampai ke lokasi kebakaran. Rata-rata petugas ke lokasi cuma tujuh menit," kata Inggard.
Artinya, lanjut Inggard, Dinas Gulkarmat sudah bekerja secara baik dan profesional dengan anggaran yang memadai.
Terkait Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) di lingkungan Pemprov DKI Jakarta yang mencapai sekitar 110.000, Inggard berharap Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Biro Organisasi dan Reformasi Birokrasi (ORB) bisa membaginya secara tepat sasaran.
"Dengan begitu kekurangan personel damkar bisa diatasi," kata Inggard.
Kebakaran Kebon KosongInggard turut memberikan perhatian atas peristiwa kebakaran di wilayah Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, yang telah terjadi beberapa kali sepanjang tahun 2026.
"Ada dugaan disengaja. Ini harus diusut tuntas," kata Inggard.
Berdasarkan catatan redaksi, pada 21 Januari 2026 kebakaran melanda wilayah Gang Laler/Jalan Kemayoran Gempol, Kelurahan Kebon Kosong, yang menghanguskan ratusan rumah dan berdampak pada ribuan jiwa.
Berikutnya pada 4 Agustus 2026 terjadi kebakaran rumah tinggal di Jalan Kebon Kosong V Nomor 5 RT 05/RW 01, Kelurahan Kebon Kosong.
Pada 1-2 Juni 2026, kebakaran besar Kembali melanda kawasan permukiman padat dan bangunan pasar di Pasar Jiung, Jalan Kemayoran Gempol, Kelurahan Kebon Kosong. Peristiwa ini berdampak pada sekitar 500 kepala keluarga.
Selanjutnya pada 8 Oktober 2026, kebakaran melanda sejumlah bangunan yang diduga disebabkan oleh korsleting listrik di Jalan Dakota 2, Kelurahan Kebon Kosong. Akibat kejadian ini, sebanyak 4 rumah dan 4 kios hangus terbakar.
Terakhir, pada 22 Oktober 2026, kepulan asap hitam pekat kembali terpantau muncul di kawasan Kebon Kosong dan langsung ditangani oleh petugas pemadam kebakaran.
BERITA TERKAIT: