Pertamina Andalkan Inovasi Teknologi untuk Tekan Impor BBM

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-satryo-1'>AHMAD SATRYO</a>
LAPORAN: AHMAD SATRYO
  • Kamis, 22 Oktober 2026, 17:59 WIB
Pertamina Andalkan Inovasi Teknologi untuk Tekan Impor BBM
Senior Vice President Technology Innovation & Implementation PT Pertamina (Persero), Hana Timoti, saat sesi diskusi dalam kegiatan Elnusa Energy Connect dan Elnusa Journalistic Award 2026, di Graha Elnusa, Jl. Cilandak Timur, Ps. Minggu, Jakarta Selatan, Kamis, 22 Oktober 2026. (Foto: Dokumentasi RMOL)
Kecil Besar
rmol news logo PT Pertamina (Persero) terus mengembangkan inovasi teknologi untuk mengoptimalkan produksi minyak dan gas bumi (migas), memperlambat penurunan produksi sumur, serta mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

Senior Vice President Technology Innovation & Implementation PT Pertamina (Persero), Hana Timoti mengatakan, pengembangan teknologi harus mempertimbangkan dua aspek utama, yakni kesiapan teknis dan kelayakan komersial.

"Teknologi yang dikembangkan tidak hanya dapat diterapkan, tetapi juga memberikan manfaat bagi operasional dan bisnis perusahaan," ujar Hana dalam kegiatan Elnusa Energy Connect dan Elnusa Journalistic Award 2026, di Graha Elnusa, Jl. Cilandak Timur, Ps. Minggu, Jakarta Selatan, Kamis, 22 Oktober 2026. 

Menurut dia, pengembangan teknologi di lingkungan Pertamina dilakukan dengan mengacu pada kerangka Technology Readiness Level (TRL) untuk menilai tingkat kesiapan suatu teknologi sebelum diimplementasikan.

“Selain bagaimana teknologi bisa diimplementasikan, kita pun dari sisi komersial mempertimbangkan kelayakannya karena fungsi teknologi kita ada di perusahaan,” sambung Hana memaparkan.

Ia menjelaskan, kesiapan teknologi perlu diikuti dengan kesiapan komersial melalui pendekatan Commercial Readiness Index. Pendekatan tersebut digunakan untuk menilai apakah suatu inovasi memungkinkan untuk dieksekusi dan diterapkan dalam proses bisnis perusahaan.

"Dalam implementasinya, fungsi teknologi bertugas mencari dan menyiapkan teknologi yang sesuai dengan target serta strategi perusahaan. Sementara itu, penerapan teknologi dilakukan melalui koordinasi dengan unit operasional terkait," urainya.

Pendekatan tersebut, ditegaskan Hana, diharapkan menghasilkan berbagai solusi teknologi yang dapat mendukung kegiatan operasional, meningkatkan efisiensi, serta membantu pencapaian target bisnis Pertamina.

Optimalkan Produksi Migas dan Kembangkan Bisnis Rendah Karbon

Hana juga menyoroti pentingnya teknologi untuk mengoptimalkan produksi migas, terutama dalam menghadapi penurunan alamiah produksi sumur (declining).

Menurutnya, meskipun penurunan produksi pada akhirnya tidak dapat dihindari, penerapan teknologi yang tepat dapat membantu memperlambat laju penurunan dan mengoptimalkan produksi dari sumur yang masih beroperasi.

"Pertamina tetap berupaya mempertahankan bisnis inti di sektor minyak dan gas, termasuk kegiatan operation and maintenance (O&M) gas. Bersamaan dengan itu, perusahaan juga mempersiapkan pengembangan bisnis rendah karbon untuk mengantisipasi transisi energi," kata Hana.

"Arah pengembangan tersebut mencakup penerapan teknologi yang mendukung pengurangan emisi serta pengembangan energi yang lebih rendah karbon," tambahnya menjelaskan.

Menurut Hana, transformasi teknologi perlu berjalan beriringan dengan strategi bisnis, agar perusahaan mampu mempertahankan kinerja sektor migas sekaligus menyiapkan sumber pertumbuhan baru di tengah perubahan lanskap energi.

Selain optimalisasi produksi migas, pengembangan bahan bakar nabati atau biofuel menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.

Hana menyoroti kesenjangan antara produksi dan konsumsi minyak nasional yang dalam pemaparannya disebut mencapai sekitar satu juta barel per hari. Sementara itu, penemuan sumber minyak baru tidak serta-merta meningkatkan produksi dalam waktu singkat karena membutuhkan proses pengembangan sebelum dapat beroperasi.

Karena itu, pengembangan bahan bakar alternatif dinilai penting untuk membantu memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Sejumlah opsi yang disiapkan mencakup biodiesel dan bioetanol. Pengembangan bahan bakar nabati diharapkan dapat mengurangi kebutuhan impor BBM, khususnya untuk menggantikan sebagian kebutuhan bahan bakar berbasis minyak bumi.

Namun, pengembangan biofuel masih menghadapi tantangan, terutama terkait ketergantungan pada bahan baku tertentu. Untuk biodiesel, sawit menjadi salah satu bahan baku utama, sedangkan pengembangan bioetanol membutuhkan alternatif bahan baku yang memadai dan berkelanjutan.

Hana menilai pencarian sumber bahan baku alternatif menjadi bagian penting dari pengembangan teknologi energi ke depan. Diversifikasi tersebut diperlukan agar produksi biofuel dapat dikembangkan secara lebih luas dan mendukung upaya pengurangan impor.

Ia juga menekankan bahwa Indonesia perlu menyesuaikan strategi energi dengan kondisi saat ini. Jika sebelumnya Indonesia dikenal sebagai negara pengekspor minyak bersih (net exporter), kini kebutuhan impor perlu menjadi pertimbangan dalam merumuskan strategi ketahanan energi nasional.

"Melalui inovasi teknologi, pengembangan biofuel, dan optimalisasi produksi migas, Pertamina berupaya mendukung pencapaian target bisnis perusahaan sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia," ucapnya.

"Pengembangan teknologi yang memperhitungkan kesiapan teknis, kelayakan komersial, dan kebutuhan operasional diharapkan dapat menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara nyata serta memberikan manfaat berkelanjutan bagi industri energi nasional," demikian Hana menambahkan. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA