Pada perdagangan awal Kamis, 22 Oktober 2026, harga minyak mentah Brent naik 1,29 Dolar AS atau 1,2 persen menjadi 110,11 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 97 sen atau 1 persen menjadi 98,12 Dolar AS per barel.
Kekhawatiran terhadap pasokan minyak muncul setelah serangan kelompok Houthi Yaman, yang bersekutu dengan Iran, menyasar sejumlah lokasi di Arab Saudi. Serangan di bandara sipil Dammam menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai delapan lainnya, sementara serangan pesawat nirawak di sebuah ladang minyak Saudi menewaskan dua orang.
Situasi keamanan kawasan juga memburuk akibat meningkatnya ancaman terhadap kapal-kapal di jalur perdagangan energi. Data Kpler mencatat sedikitnya 18 serangan terhadap kapal dalam dua pekan terakhir. Analis LSEG memperingatkan bahwa kapal tanker kini menghadapi ancaman hingga ke Teluk Oman, di luar Selat Hormuz, sehingga berpotensi mengganggu pengangkutan dan pemuatan minyak mentah dari kawasan Teluk.
Di tengah ketegangan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi menegaskan bahwa negaranya siap membela diri. Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyatakan bahwa AS tidak bisa mengharapkan dialog selama masih melakukan blokade dan ancaman terhadap Iran. Perkembangan ini menambah ketidakpastian mengenai keamanan pasokan minyak dari Timur Tengah.
Dari sisi persediaan, data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS turun 3,06 juta barel menjadi 412,5 juta barel pada pekan lalu. Penurunan ini jauh lebih besar dibandingkan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters, yang memperkirakan stok hanya berkurang 820.000 barel. Berkurangnya persediaan minyak mentah turut menjadi faktor yang diperhatikan pasar.
Sementara itu, pemerintah AS berupaya menekan kenaikan harga bahan bakar dengan menawarkan pinjaman hingga hampir sepertiga dari cadangan darurat minyak pemanas nasional yang mencapai 1 juta barel.
Langkah tersebut diambil di tengah tingginya harga diesel akibat konflik di Iran dan Ukraina. Namun, selama serangan terhadap infrastruktur energi dan kapal pengangkut minyak terus berlangsung, risiko gangguan pasokan masih membayangi pergerakan harga minyak dunia.
BERITA TERKAIT: