Mengutip
Bloomberg, Rupiah bergerak ke level Rp18.046 per Dolar AS, melemah 24 poin atau 0,13 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Anjloknya kurs Rupiah ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Serangan kelompok Houthi terhadap sejumlah target di Arab Saudi mendorong Amerika Serikat (AS) memerintahkan sejumlah diplomat dan anggota keluarga mereka meninggalkan misi diplomatik di negara tersebut.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik 1,2 persen menjadi 110,11 Dolar AS per barel pada pukul 00.34 GMT.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1 persen menjadi 98,12 Dolar AS per barel.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti juga telah menjelaskan tekanan terhadap Rupiah dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter Amerika Serikat, hingga sentimen investor asing di pasar saham.
Sentimen tersebut turut dipengaruhi oleh ancaman Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
“Perkembangan ini dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter AS yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham,” kata Destry dalam konferensi pers, Rabu 21 Oktober 2026.
BERITA TERKAIT: