Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 23,20 persen (yoy), disusul kredit modal kerja yang tumbuh 11,89 persen (yoy) dan kredit konsumsi sebesar 4,86 persen (yoy).
"Intermediasi perbankan tetap kuat, disertai dengan ketahanan perbankan yang terjaga," kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu 21 Oktober 2026.
Menurut Destry, kredit kepada korporasi yang tidak terkait dengan program pemerintah juga mengalami peningkatan.
Sementara itu potensi ekspansi kredit ke depan disebut masih terbuka lebar yang tercermin dari fasilitas pinjaman yang belum digunakan atau undisbursed loan sebesar Rp2.562,57 triliun.
"Potensi kenaikan kredit masih tinggi sejalan masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang tercatat Rp2.562,57 triliun atau 21,70 persen dari plafon kredit yang tersedia," tuturnya.
Di sisi lain, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada September 2026 tercatat sebesar 8,22 persen (yoy).
Pertumbuhan DPK yang lebih rendah dibandingkan kredit tersebut perlu terus didorong untuk menopang ekspansi pembiayaan perbankan.
BI pun memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 berada dalam kisaran 8-12 persen.
Dari sisi ketahanan, perbankan nasional masih menunjukkan kondisi yang solid. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan pada Agustus 2026 tercatat tinggi sebesar 24,10 persen.
Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) secara agregat berada pada level 2,11 persen secara bruto dan 0,84 persen secara neto pada Agustus 2026.
Likuiditas perbankan juga menunjukkan perbaikan. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) meningkat dari 23,04 persen pada Agustus 2026 menjadi 24,08 persen pada September 2026.
BERITA TERKAIT: