Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/alifia-dwi-ramandhita-1'>ALIFIA DWI RAMANDHITA</a>
LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA
  • Rabu, 21 Oktober 2026, 15:58 WIB
Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik
Konferensi pers Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Rabu, 21 Oktober 2026. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)
Kecil Besar
rmol news logo Nilai tukar Rupiah melemah 0,61 persen ke level Rp17.985 per Dolar AS pada 20 Oktober 2026 dibandingkan posisi akhir September 2026. 

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, Rupiah sempat menguat hingga pertengahan September 2026 sebelum kembali tertekan.

“Setelah sempat menguat hingga pertengahan September 2026, nilai tukar Rupiah pada 20 Oktober 2026 tercatat Rp17.985 per Dolar AS atau melemah sebesar 0,61 persen (ptp) dibandingkan dengan posisi akhir September 2026,” kata Destry dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.

Menurut Destry, tekanan terhadap Rupiah dipengaruhi eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) hingga sentimen investor asing di pasar saham, setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengancam akan menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

“Perkembangan ini dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter AS yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham,” jelasnya.

Menghadapi tekanan tersebut, BI, kata Destry akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui optimalisasi instrumen moneter dan penguatan insentif guna mendorong aliran masuk investasi portofolio asing.

BI juga mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA). Insentif diberikan untuk instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) beli lindung nilai konvensional kepada BI, serta transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra.

“Insentif tersebut tidak hanya diberikan untuk instrumen swap dan DNDF beli lindung nilai konvensional kepada Bank Indonesia, tetapi juga untuk transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra sehingga imbal hasil aset Rupiah menjadi tetap menarik,” tegasnya.

Sejak diberlakukan pada Juni 2026, kebijakan insentif tersebut telah menarik aliran masuk modal asing sebesar 9,9 miliar Dolar AS hingga 20 Oktober 2026.

Ke depan, BI memperkirakan nilai tukar Rupiah bergerak stabil. Prospek tersebut ditopang komitmen BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar, imbal hasil aset Rupiah yang menarik, inflasi yang terkendali dalam sasaran, serta prospek perekonomian domestik yang tetap baik.rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA