Murni Bisnis, Haji Isam Akuisisi BYAN Tak terkait dengan Ancaman MSCI

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-kiflan-wakik-1'>AHMAD KIFLAN WAKIK</a>
LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK
  • Selasa, 20 Oktober 2026, 18:44 WIB
Murni Bisnis, Haji Isam Akuisisi BYAN Tak terkait dengan Ancaman MSCI
Ilustrasi
Kecil Besar
rmol news logo Direktur Eksekutif Infra Bestari, Gede Sandra mengaku tak percaya jika ancang-ancang Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan kasta pasar saham Indonesia dari emerging menjadi standalone market, karena soal tata kelola atau transparansi data emiten.

Apalagi ada pihak-pihak yang mengaitkannya dengan ekspansi bisnis pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam mengakuisisi 30,25 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik konglomerat Low Tuck Kwong.

"Itu jelas enggak betul. Tidak ada kaitannya MSCI dengan Haji Isam yang membeli saham BYAN. Itu kan murni bisnis," kata Gede di Jakarta, Selasa 20 Oktober 2026.

Gede pun mempertanyakan pihak-pihak yang menilai tidak transparannya proses akuisisi 30,25 persen saham BYAN yang nilainya Rp26,1 triliun.

"Zaman sekarang mana bisa tidak transparan. Tapi memang pihak bank bisa memberikan penjelasan lebih detail kepada market," ungkapnya.

Gede justru lebih percaya bahwa rencana MSCI yang dikenal sebagai penyedia indeks global, bakal menurunkan (downgrade) klasifikasi bursa saham Indonesia, karena kepentingan asing.

Analisis itu menguat ketika Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara bertemu petinggi IMF dan Bank Dunia dalam IMF-World Bank Group Annual Meetings 2026 di Bangkok, Thailand pada 12-18 Oktober 2026. Kehadiran Suahasil seharusnya bisa melunakkan MSCI, ternyata tidak. 

“Kemarin terpilih Menkeu Suahasil yang sealiran dengan Sri Mulyani, diharapkan bisa memperbaiki hubungan dengan pasar dunia, termasuk MSCI. Ternyata tidak demikian adanya," ungkapnya.

Dia pun menduga bahwa pasar Amerika Serikat (AS) sedang ingin mengganggu perekonomian Indonesia yang saat ini dipimpin Prabowo Subianto. 

"Dengan segala kejutannya MSCI ini, saya melihat pasar di AS ingin menghukum paradigma baru ekonomi pemerintahan Prabowo," pungkasnya.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA