Meski kebijakan tersebut berpotensi membuka jalan bagi peningkatan pasokan minyak, kekhawatiran terhadap gangguan distribusi di Timur Tengah masih membayangi pasar.
Menurut data Reuters, harga minyak mentah Brent turun 49 sen atau 0,45 persen menjadi 109,06 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak November melemah 0,33 persen menjadi 103,32 Dolar per barel.
Pelemahan ini terjadi setelah harga Brent sempat melonjak hingga 110,70 Dolar AS per barel pada perdagangan sebelumnya. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 20 Mei, mencerminkan masih kuatnya perhatian pasar terhadap risiko pasokan minyak global.
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif pada Jumat malam yang mencabut sejumlah sanksi dan tarif terkait Rusia. Kebijakan tersebut mencakup bea masuk terhadap barang-barang Rusia serta sanksi atas pembelian minyak dan gas negara tersebut. Jika benar-benar diterapkan, pelonggaran ini berpotensi memengaruhi aliran minyak Rusia ke pasar global.
Namun, kepastian kebijakan tersebut masih belum jelas. Trump mengatakan pada Sabtu bahwa belum ada keputusan akhir, sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut pemerintah masih membutuhkan waktu untuk mengevaluasi situasi.
Di sisi lain, produksi minyak Rusia mulai meningkat, tetapi belum kembali ke level tahun sebelumnya. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat produksi minyak mentah Rusia naik 65.000 barel per hari pada September menjadi 8,43 juta barel per hari. Meski demikian, angka tersebut masih lebih rendah sekitar 870.000 barel per hari dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, serangan terhadap Arab Saudi dan Yaman tetap memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan dari Timur Tengah, sehingga arah harga minyak masih bergantung pada perkembangan geopolitik dan kepastian pasokan global.
BERITA TERKAIT: