Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, dukungan investor domestik diperlukan untuk menjaga kepercayaan terhadap pasar modal di tengah tekanan yang terjadi saat ini.
"Pertama, kami tentu mengapresiasi setiap pihak yang memberikan dukungan dalam kondisi seperti ini," kata Jeffrey kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Senin 19 Oktober 2026.
Meski demikian, Jeffrey menegaskan bahwa BEI tidak dapat mengonfirmasi realisasi rencana transaksi tersebut karena aktivitas jual beli saham setiap investor bersifat rahasia.
"Dan yang kedua, setiap transaksi, pihak-pihak yang melakukan transaksi di Bursa itu sifatnya rahasia. Jadi tentu tidak bisa kami ungkap kepada publik," jelasnya.
Sebelumnya, Babah Alun mengumumkan rencana memborong saham bersama sejumlah rekan bisnisnya melalui konsorsium pada Senin ini.
Dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, @jusufhamka, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu menyatakan kesiapan konsorsiumnya masuk ke pasar saham untuk memanfaatkan peluang di tengah koreksi harga.
"SAATNYA KITA BERBAKTI KEPADA NKRI. Insyaallah Senin besok, konsorsium kami akan masuk ke MARKET, untuk cari CUAN," tulisnya.
Ia menilai, anjloknya harga saham justru dapat menjadi momentum bagi investor untuk mengakumulasi saham dengan harga lebih murah.
Keuntungan, menurutnya, tidak hanya berasal dari kenaikan harga saham saat pasar pulih, tetapi juga dari pembagian dividen.
"Jadi dengan kita megang aja barang ini mendapat dividen setiap tahun 8 persen, lebih tinggi dari deposito. Sehingga kalau harga sahamnya naik atau rebound, kita juga bisa jual," jelasnya.
Sebagai gambaran, Jusuf mencontohkan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang sebelumnya diperdagangkan di kisaran Rp6.000 hingga Rp7.000 per saham, sebelum turun ke kisaran Rp3.300 hingga Rp3.400.
Penurunan harga saham tersebut dinilai dapat membuka peluang investasi bagi investor yang ingin memperoleh potensi dividen sekaligus keuntungan dari pemulihan harga saham.
BERITA TERKAIT: