IHSG-Rupiah Kompak Anjlok, Dibayangi MSCI dan Harga Minyak

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/alifia-dwi-ramandhita-1'>ALIFIA DWI RAMANDHITA</a>
LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA
  • Senin, 19 Oktober 2026, 18:04 WIB
IHSG-Rupiah Kompak Anjlok, Dibayangi MSCI dan Harga Minyak
Ilustrasi
Kecil Besar
rmol news logo Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah kompak melemah pada penutupan perdagangan Senin, 19 Oktober 2026.

IHSG ditutup di level 4.996, terkoreksi 188 poin atau 3,64 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 656 saham ditutup melemah, sementara 100 saham menguat dan 43 saham stagnan.

Seluruh sektor perdagangan berakhir di zona merah. Sektor barang baku memimpin pelemahan dengan koreksi 4,57 persen, diikuti sektor infrastruktur yang turun 4,45 persen dan sektor barang konsumsi siklikal (cyclical) yang merosot 4,03 persen.

Aktivitas perdagangan tercatat ramai dengan volume mencapai 34 miliar saham. Nilai transaksi mencapai Rp25 triliun dengan frekuensi 1,62 juta kali transaksi.

Seiring dengan pelemahan IHSG, kapitalisasi pasar BEI menyusut menjadi Rp8.863 triliun dari Rp9.176 triliun pada perdagangan sebelumnya.

Tekanan juga membayangi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Mengutip data Bloomberg, Rupiah ditutup di level Rp18.046 per Dolar AS, melemah 19 poin atau 0,11 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan IHSG dan Rupiah masih dipengaruhi kekhawatiran investor terhadap usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

“Emerging Market menjadi Standalone Market (MSCI) berpotensi masih akan mendominasi, meskipun perpindahan kelas tersebut masih berupa usulan dan pengkajian serta belum pasti akan terjadi,” kata Ibrahim dalam risetnya.

Selain sentimen MSCI, lonjakan harga minyak dunia yang menembus 110 Dolar AS per barel turut menambah tekanan di pasar keuangan Indonesia.

“Hal tersebut telah meningkatkan ketidakpastian di pasar modal Indonesia, sehingga membuat investor cenderung menghindari risiko,” katanya.

Ibrahim menilai, upaya otoritas bursa dalam menegakkan hukum terhadap pihak-pihak yang diduga melakukan pelanggaran di pasar modal juga berpotensi memicu gejolak dalam jangka pendek.

“Adanya upaya dari otoritas bursa untuk melakukan penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang dianggap melakukan pelanggaran, dalam jangka pendek berpotensi meningkatkan volatilitas dan ketidakpercayaan.

Namun, jika diimplementasikan dengan baik, Ibrahim mengatakan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia akan kembali meningkat dalam jangka panjang.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA