Harga emas di pasar spot terkerek 0,2 persen ke level 4.174,54 Dolar AS per ons pada pukul 07.31 WIB. Penguatan serupa dicatatkan oleh kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Desember yang naik 0,4 persen menjadi 4.195,70 Dolar AS per ons.
Tekanan makroekonomi turut membayangi pasar setelah data September menunjukkan harga impor Amerika Serikat melampaui proyeksi. Lonjakan biaya energi dan komoditas mempertegas bahwa inflasi masih menjadi duri dalam daging, terlebih di tengah konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Di sisi lain, pasar terus mengkalkulasi ulang langkah bank sentral. Berdasarkan perangkat FedWatch Tool milik CME Group, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga pada bulan ini dipatok sebesar 16 persen. Namun, ekspektasi melonjak tajam ke level 92 persen untuk pertemuan bulan Desember.
Sentimen ini terbentuk menyusul pernyataan Chairman The Fed, Kevin Warsh, pada Jumat lalu. Warsh menyuarakan optimismenya terhadap resiliensi ekonomi Amerika Serikat, sekaligus mengaku terkejut dengan kemampuan perekonomian global dalam meredam guncangan energi dan rezim suku bunga tinggi.
Bagi investor, emas tetap menjadi instrumen lindung nilai (safe haven) utama di tengah turbulensi. Kendati demikian, bayang-bayang kenaikan suku bunga berpotensi menahan laju logam kuning karena absennya imbal hasil (yield), yang otomatis mengerek biaya peluang bagi pemegangnya.
Tidak hanya di Amerika Serikat, tekanan inflasi global juga memaksa pengetatan berlanjut di Eropa. Dalam laporan prospek ekonomi yang dirilis Jumat, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan Bank Sentral Eropa (ECB) masih harus mengerek suku bunga sebesar 25 basis poin setidaknya satu kali lagi tahun ini.
Dari panggung geopolitik, bara api di Timur Tengah kian memanaskan sentimen pasar. Pada Minggu, Kepresidenan Mesir menegaskan kesiapan penuh untuk mendukung Arab Saudi dalam mengamankan stabilitas kawasan, pasca-serangan milisi Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran terhadap kerajaan tersebut. Ketegangan yang membara ini otomatis mendongkrak permintaan terhadap aset-aset aman.
Gelora penguatan ini turut menular ke komoditas logam mulia lainnya. Di pasar spot, harga perak melesat 0,5 persen menjadi 57,27 Dolar AS per ons. Platinum menyusul dengan kenaikan 0,4 persen ke posisi 1.637,24 Dolar AS per ons, sementara paladium memimpin reli komoditas dengan lonjakan sekitar 1 persen hingga bertengger di level 1.122,32 Dolar AS per ons.
BERITA TERKAIT: