Wall Street Merah, Saham Teknologi AS Babak Belur

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 17 Oktober 2026, 07:56 WIB
Wall Street Merah, Saham Teknologi AS Babak Belur
Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)
Kecil Besar
rmol news logo Reli saham teknologi di Wall Street terpukul keras. Nasdaq ambles lebih dari 2 persen dalam sehari dan mencatatkan pekan terburuk sejak Juni, seiring investor ramai-ramai melepas saham berbasis kecerdasan buatan (AI) di tengah kekhawatiran utang jumbo perusahaan teknologi, persaingan chip dari China, dan lonjakan harga minyak.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, waktu setempat, indeks Nasdaq Composite merosot 2,14 persen ke 26.140,03, sedangkan S&P 500 turun 1,09 persen ke 7.659,44. Dow Jones Industrial Average juga melemah 175,28 poin atau 0,34 persen ke 52.002,41.

Tekanan paling besar terlihat pada saham teknologi, terutama produsen semikonduktor. ETF VanEck Semiconductor (SMH) turun sekitar 3 persen, dipicu pelemahan saham Micron Technology, Advanced Micro Devices (AMD), dan SanDisk. Sepanjang pekan, indeks tersebut anjlok sekitar 10 persen, menjadi penurunan mingguan terdalam sejak April 2025.

Secara mingguan, Nasdaq merosot lebih dari 4 persen, mencatatkan kinerja terburuk sejak Juni. S&P 500 juga terkoreksi sekitar 2 persen, sementara Dow Jones justru menguat 0,7 persen. Perbedaan kinerja ini menunjukkan tekanan terkonsentrasi pada saham teknologi dan perusahaan yang berkaitan dengan AI.

Investor juga mulai mempertanyakan besarnya pembiayaan utang untuk membangun infrastruktur AI. Saham CoreWeave, perusahaan penyedia komputasi awan yang banyak melayani kebutuhan AI, anjlok hampir 12 persen. Dengan demikian, sahamnya telah kehilangan sekitar 25 persen sepanjang pekan. Total utang perusahaan tersebut dilaporkan telah melampaui US$51 miliar.

Tekanan di pasar saham turut diperburuk kenaikan harga minyak di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran serta Rusia-Ukraina. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 3,51 persen menjadi 101,41 Dolar AS per barel, sedangkan Brent menguat 3,72 persen ke 109,86 Dolar AS per barel. Harga energi yang tinggi juga menambah kekhawatiran terhadap inflasi, yang masih berada di atas target Federal Reserve sebesar 2 persen.

Meningkatnya ketidakpastian membuat investor semakin berhati-hati. Indeks volatilitas Cboe (VIX), yang kerap digunakan untuk mengukur tingkat kecemasan pasar, naik ke 21,32 pada perdagangan Jumat, level tertinggi sejak Juni. Sementara itu, pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober, dengan peluang sebesar 82 persen menurut perangkat FedWatch CME Group.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA