Angka ini melonjak 114,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp239,14 miliar, ditopang pertumbuhan pendapatan dan efisiensi biaya operasional.
Dalam keterbukaan informasi yang dikutip redaksi pada Jumat 16 Oktober 2026, disebukan bahwa pendapatan perseroan mencapai Rp5,10 triliun, naik 9,71 persen dari Rp4,65 triliun. Sementara itu, beban pokok pendapatan hanya meningkat 2,26 persen menjadi Rp4,06 triliun, sehingga laba kotor tumbuh 53,72 persen menjadi Rp1,03 triliun.
Meski beban usaha dan administrasi naik 77,40 persen menjadi Rp322,35 miliar, laba operasional tetap meningkat 44,97 persen menjadi Rp712,43 miliar. Keuntungan dari perubahan nilai wajar investasi saham sebesar Rp229,37 miliar turut mendukung kenaikan laba bersih.
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, DEWA masih menghadapi risiko konsentrasi pelanggan yang tinggi. Sebanyak Rp4,98 triliun atau 97,67 persen dari total pendapatan berasal dari perusahaan berelasi dalam ekosistem Grup Bakrie.
PT Kaltim Prima Coal (KPC) menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan Rp3,58 triliun, setara 70,33 persen dari total omzet. Berikutnya, PT Arutmin Indonesia menyumbang Rp1,39 triliun atau 27,34 persen.
Sementara itu, pendapatan dari pelanggan pihak ketiga dilaporkan turun 41,78 persen menjadi Rp119,03 juta dari sebelumnya Rp204 miliar. Namun, angka tersebut perlu dikonfirmasi kembali karena besaran penurunan tidak selaras dengan nilai pendapatan yang disebutkan. Tingginya konsentrasi pelanggan membuat keberlanjutan pendapatan DEWA sangat bergantung pada proyek dari KPC dan Arutmin.
Dari tiga segmen usaha yang dijalankan, yakni jasa pertambangan, pertambangan, dan jasa lainnya, segmen jasa pertambangan menjadi satu-satunya penyumbang pendapatan. Segmen ini juga mencatatkan laba periode berjalan sebesar Rp542,45 miliar.
Efisiensi operasional turut memperbaiki profitabilitas perseroan. Margin laba kotor meningkat dari 14,48 persen menjadi 20,28 persen, sedangkan margin laba operasi mencapai 13,96 persen dan margin laba bersih sebesar 10,06 persen.
Dari sisi keuangan, rasio utang terhadap ekuitas (DER) tercatat 1,19 kali, sementara rasio utang berbunga berada di level 0,56 kali. Rasio cakupan bunga sebesar 2,23 kali menunjukkan kemampuan operasional perseroan dalam memenuhi beban bunga masih terjaga.
Pantauan RMOL, pada penutupan perdagangan Kamis 15 Oktober 2026, saham, DEWA mencatatkan volume perdagangan 644,43 juta saham dengan nilai transaksi Rp199,74 miliar. Frekuensi transaksi mencapai 24.313 kali, dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp40,69 triliun dan volume transaksi di pasar negosiasi sebanyak 4,51 juta saham.
Sementara pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, hingga pukul 11.59.24, saham tersebut mencatatkan harga terakhir di level 304. Aktivitas perdagangan mencapai volume 125,58 juta saham dengan nilai transaksi sebesar Rp32,65 miliar dan frekuensi 5.357 kali.
BERITA TERKAIT: