Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea mengatakan kurs Rupiah menghadapi tekanan di tengah meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global yang memicu penguatan Dolar AS dan arus keluar dana dari aset portofolio domestik.
“Di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan Dolar AS dan menekan pasar keuangan domestik, arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut,” kata Erwin dalam keterangan tertulis kepada media.
Pada perdagangan hari ini, Rupiah tercatat melemah 135 poin atau 0,75 persen dari perdagangan sebelumnya ke Rp18.073 per Dolar AS.
Meski demikian, BI menilai pergerakan Rupiah masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), Rupiah tercatat melemah 0,28 persen.
Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia disebut masih tetap terjaga sebesar 146,3 miliar Dolar AS pada akhir September 2026.
Erwin menegaskan BI akan terus melakukan intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
“Bank Indonesia berkomitmen untuk terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya dan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik,” tegasnya.
Ia mengatakan intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“BI juga terus menjaga kecukupan likuiditas dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi, pelaku pasar, serta pihak terkait lainnya turut diperkuat untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik,” tandasnya.

BERITA TERKAIT: