AS Siapkan Bom 8,5 Ton untuk Hantam Iran

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Jumat, 16 Oktober 2026, 07:21 WIB
AS Siapkan Bom 8,5 Ton untuk Hantam Iran
Penampakan bom GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB). (Akun X @AJEnglish)
Kecil Besar
rmol news logo Amerika Serikat (AS) dikabarkan menyiapkan opsi serangan menggunakan bom non-nuklir terbesar dalam persenjataan militernya untuk menghantam infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran. 

Namun, meski memiliki daya ledak sangat besar, senjata yang dijuluki Mother of All Bombs atau Induk dari Semua Bom itu belum tentu mampu menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang berada jauh di bawah tanah.

Laporan CNN, yang mengutip sejumlah pejabat AS, menyebut militer tengah menyusun rencana penggunaan bom GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB) jika Presiden Donald Trump memerintahkan operasi militer baru terhadap Iran.

Rencana tersebut muncul ketika pertempuran mulai mereda. Penggunaan bom ini dikhawatirkan justru kembali memperbesar konflik, terlebih sejumlah pejabat dan pakar militer mempertanyakan apakah serangan tersebut benar-benar dapat mencapai tujuan strategis Washington, termasuk melumpuhkan kemampuan nuklir Iran.

MOAB merupakan bom konvensional berukuran besar dengan berat total sekitar 9,8 ton dan muatan bahan peledak sekitar 8,5 ton. Panjangnya lebih dari 9 meter, sehingga bom ini harus dijatuhkan menggunakan pesawat angkut militer Lockheed C-130 Hercules, bukan pesawat pembom siluman yang biasa digunakan untuk misi serangan tertentu.

Bom yang dikembangkan pada awal 2000-an tersebut dirancang untuk menghasilkan ledakan dahsyat di area permukaan. MOAB meledak beberapa meter di atas tanah, menciptakan gelombang ledakan yang dapat menghancurkan bangunan, posisi pasukan, serta kompleks gua dan terowongan yang tidak terlindungi dengan baik.

AS baru pernah menggunakan MOAB dalam operasi tempur satu kali, yakni pada 2017 untuk menyerang jaringan gua dan terowongan kelompok ISIS di Afghanistan. Pemerintah Afghanistan saat itu menyatakan 94 anggota kelompok tersebut tewas dalam serangan, meskipun laporan mengenai kerusakan rumah dan kemungkinan korban sipil juga muncul.

Daya ledak MOAB yang besar tidak otomatis membuatnya efektif menghancurkan seluruh fasilitas nuklir Iran. Sejumlah instalasi yang berpotensi menjadi sasaran, seperti kompleks nuklir Fordow dan fasilitas yang dibangun di Gunung Pickaxe, berada di lokasi yang terlindungi dan terkubur jauh di bawah tanah.

Pakar militer yang berbasis di Brussel, Elijah Magnier, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa MOAB tidak dirancang khusus untuk menembus lapisan beton tebal atau batuan keras.

“Muatan bahan peledaknya yang besar dapat menghasilkan efek ledakan yang dahsyat terhadap personel, peralatan, dan struktur yang rentan,” kata Magnier, dikutip dari Al-Jazeera, Jumat, 16 Oktober 2026.

Namun, menurutnya, pengalaman penggunaan MOAB di Afghanistan tidak membuktikan bahwa bom tersebut mampu menghancurkan semua jenis instalasi bawah tanah.

Bom ini berbeda dengan bunker buster, yakni bom penghancur bunker yang dirancang menembus lapisan tanah, beton, atau batuan sebelum meledak. Salah satu senjata sejenis milik AS adalah GBU-57 Massive Ordnance Penetrator, yang beratnya sekitar 13,6 ton dan dirancang untuk menembus hingga sekitar 61 meter ke bawah tanah dalam kondisi tertentu.

Karena itu, penggunaan MOAB belum tentu mampu melumpuhkan fasilitas nuklir Iran yang berada jauh di bawah permukaan tanah.

Selain besarnya daya ledak, penggunaan MOAB dapat memberikan dampak psikologis dan menunjukkan kekuatan militer AS. Bom ini berpotensi menghancurkan posisi pasukan darat dan berbagai fasilitas di permukaan dalam satu serangan.

Meski demikian, Magnier mempertanyakan manfaat strategis dari pengerahan senjata tersebut. Menurutnya, AS juga akan menghadapi tantangan dalam mengerahkan pesawat yang dibutuhkan ke wilayah sasaran di Iran.

Ia menilai serangan itu berisiko menghancurkan infrastruktur tanpa membuat Teheran mengubah sikapnya atau memberikan konsesi kepada Washington.

“Pertanyaan yang akan saya ajukan kepada komandan mana pun yang menganjurkan penggunaannya sangat sederhana: Apa yang akan dicapai senjata ini yang tidak dapat dicapai oleh senjata lain yang tersedia, dan bagaimana hasil tersebut akan memajukan penyelesaian politik yang dapat dicapai?” kata Magnier.

Ia menambahkan, jika alasan utama penggunaan bom tersebut hanya untuk memperlihatkan besarnya ledakan, langkah itu lebih menyerupai pertunjukan politik daripada strategi militer yang efektif.

CNN juga melaporkan bahwa Trump, dalam pembicaraan tertutup, berupaya mengakhiri perang secara tegas untuk menunjukkan bahwa Washington tidak dapat dikalahkan.

Penggunaan MOAB terhadap Iran diperkirakan dapat memicu respons militer yang lebih luas. Sejumlah pakar memperingatkan bahwa Teheran berpotensi menyerang negara-negara tetangga yang menjadi lokasi penempatan aset militer AS.

Penasihat keamanan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mohammad Reza Naghdi, sebelumnya memperingatkan bahwa Iran dapat menangkap pasukan AS jika Washington melancarkan serangan darat.

“Jika Amerika Serikat melancarkan serangan darat, begitu banyak pasukannya akan ditangkap sehingga mereka terpaksa mengibarkan bendera putih,” kata Naghdi.

Pernyataan tersebut muncul di tengah kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke negara-negara kawasan. Pada Mei lalu, Kuwait menuduh personel IRGC menyusup ke Pulau Bubiyan hingga memicu baku tembak. Iran membantah melakukan invasi dan menyatakan sistem navigasi pasukannya mengalami kerusakan.

Iran juga mengisyaratkan kemungkinan memperluas sasaran pembalasan ke infrastruktur digital regional. Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, pada Minggu mengancam akan menyerang kabel komunikasi, pusat data, dan fasilitas kecerdasan buatan di Uni Emirat Arab serta wilayah lain jika serangan AS berlanjut.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA