Wall Street Anjlok, Nasdaq Tertekan Inflasi AS

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Kamis, 15 Oktober 2026, 08:01 WIB
Wall Street Anjlok, Nasdaq Tertekan Inflasi AS
Ilstrasi (RMOL/Reni Erina)
Kecil Besar
rmol news logo Kekhawatiran investor terhadap arah suku bunga Amerika Serikat (AS) kembali menekan Wall Street setelah inflasi September tercatat lebih tinggi dari perkiraan. 

Tekanan paling besar terlihat pada saham teknologi dan perusahaan kecerdasan buatan (AI), yang dinilai rentan terhadap kenaikan biaya pinjaman.

Pada penutupan perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026, indeks Nasdaq Composite merosot 1,88 persen ke 26.692,87 dan menjadi penurunan harian terbesar sejak 23 Juli. S&P 500 turun 1,11 persen ke 7.718,94, mencatat pelemahan harian terbesar sejak 29 Juli. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun tipis 0,09 persen ke 51.621,48.

Saham perusahaan teknologi dan AI menjadi salah satu pemberat utama pasar. Oracle anjlok 8,8 persen, sedangkan perusahaan infrastruktur AI CoreWeave dan Nebius masing-masing merosot 15 persen dan 10 persen. Saham produsen server AI Dell dan Hewlett Packard Enterprise juga turun 11,4 persen dan 8,2 persen setelah Barclays menurunkan rekomendasi kedua perusahaan tersebut menjadi equal-weight dari overweight.

Tekanan juga melanda saham semikonduktor. Indeks Philadelphia Semiconductor (SOX) turun 4,3 persen dan mencatat pelemahan selama enam sesi berturut-turut, rentetan penurunan terpanjang sejak Mei 2025. Sebaliknya, saham Apple naik 0,5 persen dan membawa kapitalisasi pasarnya ditutup di atas 5 triliun Dolar AS untuk pertama kalinya.

Tekanan di pasar muncul setelah data menunjukkan harga konsumen AS meningkat pada September. Kenaikan harga bensin dan meluasnya tekanan harga di luar sektor energi memperkuat kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) masih perlu menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.

Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober pun meningkat. Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME, pelaku pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 37 persen, naik dari 22 persen pada Selasa.

Di sektor keuangan, saham Bank of America turun 4,8 persen setelah laba kuartal ketiganya tertekan pencadangan sebesar 1,2 miliar Dolar AS untuk menutupi potensi denda regulator terkait kegagalan mendeteksi kemungkinan pencucian uang. Saham Morgan Stanley juga turun hampir 3 persen meski mencatat kenaikan laba kuartalan.

Meski terkoreksi, S&P 500 masih menguat hampir 13 persen sepanjang 2026 setelah mencetak rekor tertinggi pada pekan sebelumnya. Namun, kenaikan tersebut terutama ditopang saham-saham terkait AI, sementara lebih dari 200 saham anggota indeks itu masih mencatat penurunan sepanjang tahun berjalan.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA