IHSG ditutup di level 6.146, melemah 46 poin atau 0,75 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Sebanyak 378 saham melemah, 258 saham menguat, dan 157 saham stagnan.
Hampir seluruh sektor saham melemah. Sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 1,56 persen, disusul sektor
cyclical 1,21 persen dan barang baku 1,15 persen. Hanya sektor keuangan yang menguat tipis 0,02 persen.
Aktivitas perdagangan tercatat cukup ramai dengan volume 48 miliar saham. Nilai transaksi mencapai Rp36 triliun dengan frekuensi 1,53 juta transaksi. Kapitalisasi pasar BEI juga turun menjadi Rp10.825 triliun.
Di pasar valuta asing, Rupiah justru menguat. Mengutip data
Bloomberg, Rupiah ditutup di level Rp17.887 per Dolar AS, naik 12 poin atau 0,07 persen dari perdagangan sebelumnya.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan Rupiah ditopang posisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai 146,3 miliar Dolar AS hingga akhir September 2026.
Menurutnya, posisi tersebut masih cukup untuk membiayai 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka itu juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Namun, dari sisi eksternal, Rupiah masih dibayangi konflik geopolitik di Timur Tengah.
"Hubungan Amerika Serikat dan Iran tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump soal permasalahan kosongnya pemimpin Iran," kata Ibrahim dalam risetnya.
Trump sebelumnya menyatakan bahwa para pemimpin Iran telah tidak ada, termasuk jajaran pemimpin lapis kedua, sehingga tidak diketahui siapa yang menjalankan negara tersebut.
Di sisi lain, laporan media mengindikasikan Israel tengah mempersiapkan potensi serangan terhadap Iran, baik melalui koordinasi dengan AS maupun secara mandiri.
"Ini meningkatkan risiko eskalasi ketegangan lebih lanjut di Timur Tengah," tandas Ibrahim.
BERITA TERKAIT: