Kelompok tersebut dinilai menjadi salah satu yang rentan terjerat judi online (judol), termasuk sport betting atau taruhan olahraga.
Hal itu disampaikan Direktur Group Tata Kelola, Risiko & Kepatuhan II LPS Nicolas Silalahi di acara seminar Campus to Community, yang digelar LPS dan Warta Ekonomi di Universitas Pamulang (Unpam), Kota Tangerang Selatan, Banten, Selasa, 6 Oktober 2026.
Berdasarkan data LPS, sebagian Gen Z bahkan pernah mengalihkan dana yang semula dialokasikan untuk investasi ke aktivitas sport betting.
"Dari data kami, jadi memang Gen Z ini paling rentan, bahkan 52 persen pernah mengalihkan dana investasinya ke sport betting. Jaman saya dulu judi bola, 26 persen menganggap sports betting sebagai strategi keuangan jangka panjang," ungkap Nicolas.
Menurut Nicolas, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya persoalan dalam pemahaman masyarakat mengenai perbedaan antara aktivitas perjudian dan investasi.
Ketidakjelasan batas tersebut membuat sebagian Gen Z dapat memandang aktivitas taruhan sebagai salah satu cara untuk mengelola atau menggandakan keuangan.
"Temuan ini menunjukan batas yang kabur antara judi dan investasi. Perbedaannya jelas, judi dilarang, investasi itu ada analisa, ada legal, produknya ada," dia menegaskan.
Sementara itu, Rektor Universitas Pamulang Nurzaman menjelaskan pengelolaan keuangan juga jadi instrumen penting yang wajib dikenali sedari dini.
Dalam konteks ini, ia mengelompokkan empat pilar dasar literasi keuangan untuk dapat membantu seseorang agar bisa mengelola uang dengan bijak, yakni pendapatan (earning), pengeluaran (spending), tabungan (saving), dan berbagi (sharing).
"Setelah diperoleh, maka spending, bagaimana pengeluarannya, prioritaskan yang diperlukan bukan yang diinginkan, sehingga terjadi balance antara earning dengan spending. Yang ketiga saving untuk masa depan, sekecil apapun harus bisa menabung. Setelah saving jangan lupa ada kewajiban sharing, ada pajak, infaq, sedekah, dan lain-lain," paparnya.
Senada, Independent Financial Planner Andy Nugroho menekankan bahwa perjudian tidak bisa disamakan dengan investasi sebagai alat untuk melipatgandakan kekayaan.
Dia lantas membagikan tips agar perputaran uang seseorang bisa tetap sehat tanpa terjebak instrumen keuangan bodong.
"Ada banyak metode mengelola keuangan. Salah satunya ini, 40 persen buat pengeluaran sehari hari. Utang maksimal 30 persen, 20 persen menabung dan investasi, sisanya 20 persen buat dana amal," terang dia.
Sebagai penutup, Corporate Secretary IFG Life Gatot Haryadi turut mengingatkan pentingnya asuransi dalam mengatur manajemen risiko perputaran uang.
Gatot mencontohkan perlindungan yang diberikan oleh asuransi sosial seperti diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan.
"Daripada kita tanggung sendiri risiko itu, misal kalau kita sakit, biaya rumah sakit pasang ring Rp60 juta. Daripada saya menanggung sendiri biaya operasi pasang ring, mending saya pasang premi untuk meng-cover kalau terjadi sesuatu. Kata kuncinya, kalau terjadi risiko," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: