PGN Siap Pasok Biomethane Berbasis Limbah Sawit untuk Industri

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Selasa, 06 Oktober 2026, 13:04 WIB
PGN Siap Pasok Biomethane Berbasis Limbah Sawit untuk Industri
Gandeng TTI dan KIS, PGN siap pasok biomethane berbasis limbah sawit untuk industri (Foto: Istimewa)
Kecil Besar
rmol news logo PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) kini tengah bersiap mengintegrasikan biomethane ke dalam infrastruktur gas yang ada demi mendorong pemanfaatan energi rendah karbon di Tanah Air. 

Langkah ini ditandai dengan keterlibatan PGN dalam peletakan batu pertama (groundbreaking) fasilitas pengolahan biomethane di Sumatera Selatan pada Senin 5 Oktober 2026. Proyek hasil kolaborasi bersama Toyota Tsusho Indonesia (TTI) dan PT KIS Biofuels Indonesia (KIS) ini memanfaatkan limbah organik pabrik kelapa sawit dan ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 150.000 MMBTU per tahun.

Inisiatif tersebut menjadi terobosan pertama di Indonesia yang memproduksi biomethane berbasis wilayah penghasil sawit di Sumatera, sekaligus wujud nyata kelanjutan dari nota kesepahaman (MoU) antara PGN dan TTI yang telah disepakati sejak 2022 lalu. 

Dalam skema kerja sama ini, PGN mengambil peran ganda sebagai pembeli utama (offtaker) sekaligus pihak yang mendistribusikan energi tersebut melalui jaringan pipa gasnya. Nantinya, biomethane dari perusahaan patungan KIS dan TTI (KTBI) akan disalurkan kepada PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) serta berbagai sektor industri lainnya.

Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, menyampaikan apresiasi atas dimulainya pembangunan fasilitas tersebut. Menurutnya, proyek ini menjadi tonggak penting dalam memasok gas terbarukan domestik ke dalam rantai pasokan energi nasional.

"Kami mengapresiasi TTI dan KIS yang telah memulai pembangunan fasilitas biomethane ini. Bagi PGN, ini adalah langkah penting untuk menghadirkan gas terbarukan dari sumber domestik ke dalam rantai pasok energi nasional. PGN siap mendukung melalui infrastruktur dan kapabilitas niaga yang kami miliki agar biomethane dapat dimanfaatkan oleh sektor industri," ujar Fajriyah, dalam keterangan yang diterima redaksi, selasa 6 Oktober 2026.

Dari sisi teknis, pemanfaatan biomethane ini dinilai sangat efisien karena menggunakan infrastruktur gas bumi yang sudah ada, sehingga para pelanggan industri dapat beralih bahan bakar dengan modifikasi yang sangat minimal. 

Selain memperkuat ketahanan energi domestik, kehadiran energi terbarukan ini juga melengkapi pasokan gas bumi di tengah masifnya upaya dekarbonisasi industri.

Penggunaan limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai bahan baku utama juga memberikan dampak ekologis yang besar. 

Gas metana yang mulanya terbuang bebas ke atmosfer dapat ditangkap dan dikonversi menjadi energi bersih, yang secara langsung membantu menekan emisi gas rumah kaca demi mengejar target Nationally Determined Contribution (NDC) serta Net Zero Emission 2060. Di samping itu, proyek ini turut memperkuat hilirisasi industri sawit dengan menyulap limbah menjadi produk bernilai ekonomis tinggi.

Fajriyah menambahkan bahwa biomethane memegang posisi strategis dalam mewujudkan swasembada energi sekaligus mendongkrak daya saing industri di kancah global yang kini semakin mengarah pada tuntutan rantai pasok hijau.

"Ketika biomethane ini mulai berproduksi, industri seperti TMMIN akan memiliki akses terhadap energi rendah karbon yang mendukung daya saing di tengah tuntutan rantai pasok hijau global. Kami berharap model kolaborasi ini dapat direplikasi di daerah penghasil sawit lainnya," pungkasnya.

Kedepannya, PGN berkomitmen untuk terus memperluas kemitraan strategis dalam pengembangan bisnis energi rendah karbon demi mengawal transisi energi dan ketahanan nasional. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA