IHSG ditutup sementara di level 5.989,02, melemah 20,49 poin atau 0,34 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Padahal, IHSG sempat mengawali perdagangan dengan penguatan. Indeks dibuka di level 6.018,08 dan sempat naik hingga menyentuh posisi tertinggi 6.044,26. Namun, tekanan jual yang muncul setelahnya membuat IHSG berbalik arah dan turun hingga level terendah 5.979,98.
Pantauan RMOL berdasar data bursa, tekanan terhadap IHSG tercermin dari mayoritas saham yang bergerak melemah. Sebanyak 429 saham turun, sementara 294 saham stagnan dan hanya 240 saham yang menguat.
Aktivitas perdagangan hingga akhir sesi I tercatat cukup ramai, dengan volume transaksi mencapai 745,1 juta lot. Nilai transaksi saham mencapai Rp5.752,94 miliar.
Dari sisi sektoral, tekanan terbesar datang dari sektor layanan akademik dan pendidikan yang terkoreksi 1,8 persen. Pelemahan serupa juga terjadi pada sektor utilitas sebesar 1,8 persen, sementara sektor barang baku atau material dasar turun 1,3 persen.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menjadi beban bagi pergerakan IHSG. Di antaranya PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT).
Di sisi lain, beberapa saham masih mampu menahan tekanan indeks, antara lain PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF).
Pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini juga berlangsung di tengah beragam sentimen yang datang dari dalam dan luar negeri.
Dari domestik, pelaku pasar mencermati perkembangan reshuffle kabinet, implementasi kebijakan short selling, serta respons pasar terhadap sejumlah data ekonomi, termasuk manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi.
BERITA TERKAIT: