Salah satu fokus utama Danantara adalah melakukan konsolidasi dan transformasi badan usaha milik negara (BUMN) agar lebih sehat, profesional, dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, dalam Executive Breakfast Meeting bertajuk "Dua Tahun Danantara" yang dipandu Pemimpin Redaksi RMOL, Azis Husaini.
Dony menegaskan, Danantara berkomitmen menerapkan tata kelola dan transparansi dalam pengelolaan investasi.
"Danantara perusahaan paling transparan. Kalau ragu transparansi Danantara silakan cek," kata Dony di The Opus Grand Ballroom, The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat, 2 Oktober 2026.
Menurutnya, konsolidasi BUMN dilakukan untuk memastikan perusahaan negara dikelola dengan standar tata kelola perusahaan internasional. Investasi yang dilakukan Danantara, kata dia, juga bersumber dari laba BUMN.
Dony mengatakan pembenahan BUMN menjadi penting karena masih terdapat persoalan mendasar dalam struktur dan kinerja perusahaan negara. Ia menyebut pemerintah perlu melakukan perubahan secara menyeluruh dan tidak menunda proses restrukturisasi.
"Bagi kami, kita mau lakukan perubahan sekarang atau tidak sama sekali," ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelumnya terdapat 1.074 entitas yang dikategorikan sebagai BUMN. Namun, menurut Dony, angka tersebut muncul karena persoalan definisi dan struktur kepemilikan.
Dari proses penataan tersebut, Dony menyebut sekitar 52 persen perusahaan berada dalam kondisi merugi. Karena itu, Danantara mendorong konsolidasi agar pengelolaan BUMN lebih efisien dan menghasilkan kontribusi yang lebih besar.
"Mending kita kelola delapan saja tapi labanya besar. Ini akibat tidak ada konsolidasi," katanya.
Dony menuturkan, arah pembenahan BUMN bukan sekadar mengurangi jumlah perusahaan, melainkan membangun konglomerasi bisnis yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.
Dalam proses restrukturisasi, Danantara terlebih dahulu mendesain model bisnis setiap perusahaan dengan melihat kondisi pasar serta kapabilitas, termasuk kemampuan finansial. Dari pemetaan tersebut, perusahaan yang tidak memiliki prospek dan justru menjadi beban dapat dilikuidasi, sementara perusahaan lain dapat didivestasi, dikonsolidasikan, atau direstrukturisasi sesuai kebutuhan.
"Kalau ini dilakukan, perusahaan kita sehat dan bisa berkontribusi," kata Dony.
Ia menambahkan, Danantara tidak hanya mengejar efisiensi, tetapi juga pertumbuhan. Karena itu, transformasi BUMN harus dibarengi perubahan budaya kerja menuju perusahaan yang profesional sekaligus mampu mendukung agenda pemerintah.
"Kita mau mengubah culture sehingga perusahaan itu profesional dan mendukung government," tuturnya.
Menurut Dony, seluruh proses transformasi tersebut harus berjalan dengan tata kelola yang baik agar menghasilkan perusahaan negara yang sehat dan kompetitif.
Dony menambahkan, dirinya memiliki waktu hingga 2029 untuk menjalankan agenda tersebut sehingga setiap tahapan pembenahan harus memberikan hasil maksimal.
"Saya mungkin sampai 2029, maka itu harus menghasilkan sesuatu yang maksimal," pungkasnya.
Kegiatan Executive Breakfast Meeting tersebut turut dihadiri Ketua Alumni Fikom Unpad, Hendri Satrio, dan Dekan Fikom Unpad, Dr Nindi Aristi. Kegiatan ini didukung MIND ID, Pupuk Indonesia, dan Pertamina Patra Niaga.
BERITA TERKAIT: