Berangkat dari kesadaran tersebut, Persatuan Purnawirawan Angkatan Udara (PPAU) meluncurkan Bincang Buku sebagai ruang untuk membaca, berdiskusi, dan mendorong lahirnya lebih banyak buku karya keluarga besar Angkatan Udara.
Persatuan Purnawirawan Angkatan Udara (PPAU) meluncurkan program Bincang Buku, kegiatan literasi yang direncanakan akan berlangsung setiap bulan. Acara perdana diselenggarakan pada Selasa pagi di Kantor PPAU, Persada Purnawira Lanud Halim, Jakarta, dalam suasana hangat dan penuh keakraban.
Program ini membuka ruang pertemuan antara purnawirawan, perwira aktif, dan keluarga besar Angkatan Udara untuk membahas gagasan yang lahir dari buku. Bagi PPAU, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk menjaga kesinambungan pengetahuan dan pengalaman antargenerasi.
Acara perdana dipimpin oleh Ketua Pelaksana PPAU, Marsekal Madya TNI (Purn) Wieko Syofyan, serta dihadiri anggota dan jajaran pengurus pusat PPAU. Sejumlah pejabat Markas Besar TNI Angkatan Udara turut hadir, di antaranya Kadispen AU Marsma TNI Nyoman, Kadisjarah AU, dan Asisten Teritorial AU Marsda TNI Palito Sitorus. Kehadiran mereka memperlihatkan dukungan penuh terhadap kegiatan literasi yang mempertemukan para purnawirawan dengan generasi yang masih aktif bertugas.
Dua buku yang dibahas dalam pertemuan pertama ini ditulis oleh perwira dari generasi berbeda. Kolonel Martinus yang masih aktif berdinas dan Marsma TNI (Purn) Dr. Agus Purwo. Pilihan tersebut mencerminkan salah satu kekuatan Bincang Buku. Pengalaman para purnawirawan dapat bertemu dengan pemikiran perwira aktif, lalu diuji dan diperkaya melalui diskusi terbuka.
Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan doa, dan pengantar dari Ketua Pelaksana PPAU. Berikutnya, Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim dan Penasihat Senior PPAU, Marsda TNI (Purn) F.X. Soejitno, menyampaikan pula sambutan apresiasi terhadap acara ini.
Lebih jauh, menurut F.X. Soejitno, kegiatan semacam ini akan sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas intelektual keluarga besar Angkatan Udara.
“Kegiatan ini sangat positif dan perlu terus dilanjutkan,” ujarnya.
Diskusi dipandu oleh Marsda TNI (Purn.) Imam Wahyudi sebagai moderator. Peluncuran Bincang Buku juga mengingatkan pada pekerjaan yang lebih luas: meningkatkan kebiasaan membaca dan menulis.
Lemahnya minat terhadap kedua kegiatan itu kerap menjadi keprihatinan dalam pembicaraan tentang kehidupan intelektual masyarakat luas. Keprihatinan tersebut perlu dijawab melalui kebiasaan yang dibangun secara konsisten, dimulai dari lingkungan terdekat.
Keluarga besar Angkatan Udara dapat mengambil bagian dengan menjadikan buku sebagai bahan percakapan yang hidup. Bagi perwira yang memasuki masa purnawira, menulis memiliki arti khusus. Mereka membawa pengalaman panjang serta pengetahuan spesifik yang diperoleh selama puluhan tahun bertugas.
Ada pelajaran tentang kepemimpinan, pendidikan, operasi, keselamatan penerbangan, pemeliharaan pesawat, pengembangan organisasi, dan pengambilan keputusan yang jarang ditemukan dalam buku buku pelajaran formal. Pengetahuan seperti itu patut dituangkan dalam tulisan, terutama buku, agar tidak berhenti sebagai ingatan pribadi atau hanya beredar dalam percakapan yang sangat terbatas.
Sebuah buku tidak harus berisi kisah keberhasilan semata. Pengalaman menghadapi kesulitan, keputusan yang perlu ditinjau kembali, dan pelajaran dari perubahan zaman dapat sama berharganya bagi pembaca. Ketika ditulis dengan jujur dan cermat, pengalaman seorang purnawirawan dapat menjadi bahan belajar bagi perwira muda, peneliti, mahasiswa, serta masyarakat umum.
Dengan cara itulah para purnawirawan dapat terus mengabdi melalui pengetahuan dan turut serta dalam upaya bersama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Membaca dan menulis saling menguatkan.
Membaca membantu seseorang mengenal gagasan di luar pengalaman pribadinya, sementara menulis mendorongnya menyusun pengalaman dan pemikiran secara jernih agar dapat dipahami serta ditelaah orang lain. Perwira aktif pun dapat mengambil bagian dengan menulis tentang persoalan yang mereka hadapi saat ini, sehingga dialog dengan generasi purnawirawan tetap relevan dan berkembang.
Karena itu, Bincang Buku dapat menjadi pemicu gerakan literasi yang berkelanjutan di lingkungan Angkatan Udara. Setiap pertemuan bulanan dapat mendorong peserta membaca satu karya dengan sungguh-sungguh, mengajukan pertanyaan, lalu menuliskan tanggapan atau pengalaman yang relevan.
Dari kebiasaan tersebut, dapat tumbuh lebih banyak artikel, catatan pengalaman, kajian, dan buku karya keluarga besar TNI AU.
Sesi perdana ditutup dengan penyerahan cendera mata dan foto bersama, dilanjutkan ramah tamah serta santap siang. Pertemuan itu mempererat silaturahmi sekaligus menandai awal sebuah ikhtiar intelektual.
Jika dijalankan secara tekun setiap bulan, Bincang Buku PPAU dapat menjadi tempat tumbuhnya kebiasaan membaca, keberanian menulis, dan pewarisan pengetahuan antargenerasi, dimulai dari keluarga besar Angkatan Udara dan memberi manfaat bagi bangsa. Harapannya, Bincang Buku PPAU akan mendorong semakin banyak perwira, baik yang masih aktif maupun yang telah purnawira, untuk menulis buku.
Pengalaman panjang dan pengetahuan khusus yang mereka miliki perlu dicatat dan dibagikan agar dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi penerus. Dengan demikian, pengabdian seorang perwira terus berlanjut melalui karya yang memperkaya wawasan masyarakat dan turut ambil bagian dalam upaya mengembangkan minat kedirgantaraan di kalangan masyarakat luas.
Penulis adalah Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia
BERITA TERKAIT: