Namanya Irjen Slamet Uliandi alias Kapten Jack. Kalau mendengar namanya, jangan langsung membayangkan bajak laut Karibia suka mencari harta karun. Ini Kapten Jack versi kepolisian. Posturnya tinggi besar, kalau berdiri di samping menara BTS mungkin dikira antena pemancar sedang cuti.
Lahir di Jakarta, 15 Juli 1971, ia kini berusia 55 tahun. Lulusan Akpol 1994, satu angkatan dengan Ferdy Sambo. Nah, ini menarik. Dua orang seangkatan, satu pernah menjemput yang lain ke Mako Brimob pada 2022. Dulu mungkin bertemu di kampus sambil belajar menjadi polisi, siapa sangka kelak bertemu lagi dalam episode kehidupan jauh lebih dramatis.
Pendidikan Kapten Jack juga panjang. PTIK 2001, Sespim 2008, hingga Lemhannas 2016. Kariernya melesat dari Pamen Pusdik Reskrim, Kabagmon Robinopsnal Bareskrim, Karobinopsnal Bareskrim 2019, Dirtipidsiber Bareskrim 2020, sampai Kadiv TIK Polri sejak 26 Juli 2021 hingga 2 Oktober 2026.
Jabatannya strategis. Ia pernah mengurusi infrastruktur teknologi informasi Polri, mendorong transformasi digital, membangun SuperApps, dan menerima Bintang Bhayangkara Pratama pada 2023. Pokoknya, urusan teknologi bukan barang baru baginya. Kalau komputer hang, mungkin tinggal dipelototi, langsung sadar sendiri.
Ia juga pernah menangani perkara Abu Janda dan Gus Nur. Bahkan, pada 2022, dialah menjemput Ferdy Sambo dari rumah menuju Mako Brimob. Sekarang, Kapten Jack justru masuk dalam pusaran perkara menyeret sejumlah petinggi kepolisian. Dunia memang bundar, tetapi putaran nasib jenderal ternyata lebih cepat dari kipas angin kapal.
Pada November 2026, statusnya berubah dari saksi menjadi tersangka keempat kasus dugaan penyadapan ilegal telepon Presiden Prabowo Subianto. Ia disebut berkaitan dengan posisi sebagai dewan pembina Monitoring Center Bareskrim, lembaga yang pernah berada dalam lingkup jabatan yang dipimpinnya.
Penyidik menduga terdapat perbuatan melawan hukum, termasuk dugaan penghapusan data. Tiga jenderal sebelumnya sudah ditahan di Mako Brimob, sementara Kapten Jack belum ditahan karena dikabarkan baru saja mengalami persoalan kesehatan berupa stroke.
Tentu, seluruh dugaan itu masih harus dibuktikan melalui proses hukum. Namun, ada pertanyaan semakin menggelitik. Kalau benar telepon Presiden disadap, siapa sebenarnya yang memerintahkan?
Masa iya empat orang ini mendadak berinisiatif menjadi James Bond tanpa sutradara? Mereka bukan anak-anak pramuka yang sedang latihan menggunakan HT. Ini menyangkut komunikasi kepala negara!
Jangan-jangan kita baru melihat pemainnya, belum melihat pemilik panggungnya. Tiga tersangka sudah ditahan, tersangka keempat diumumkan. Lalu siapa berikutnya? Apakah masih ada tokoh yang namanya belum muncul di layar radar?
Warga warkop tentu tidak puas kalau penyidik hanya sibuk mengumpulkan pemain, tetapi lupa mencari sutradara. Sebab dalam film spionase, yang paling berbahaya bukan orang memegang alat sadap, melainkan orang yang memerintahkan dari ruangan ber-AC sambil pura-pura tidak tahu apa-apa. Sambil pura-pura berlaga orang baik.
Film ini tampaknya belum sampai pada adegan klimaks! Di bawah komando Suyudi, Polri terus memburu para jenderal yang lain. Infonya ada 11 jenderal. Kaki tangan LSP masih bercokol di dalam Mabes, dan butuh waktu untuk mengusutnya. Itu sebabnya, Suyudi melakukan pembersihan besar-besar dengan melakukan mutasi 571 Pati dan Pamen.
Pantangin terus kisah upaya kudeta ala Dewan Jenderal Polisi ini. Apakah akan ada lagi tersangka baru?
Rosadi JamaniAkademisi
BERITA TERKAIT: