Ternyata, berdasarkan temuan Bonatua Silalahi, tidak ada program seperti yang diklaim Wapres Gibran dalam Surat Keterangan (Suket) penyetaraan yang diterbitkan Kementerian Dikdasmen sebagai persyaratan untuk mendaftarkan sebagai Cawapres 2024, lalu.
Suket itu sendiri diperoleh juga oleh Bonatua Silalahi lewat persidangan panjang di Komisi Informasi Pusat (KIP).
Denny Indrayana dan yang lainnya tidak akan bisa berbuat apa-apa, kalau tidak ada temuan-temuan dari Bonatua Silalahi.
Makanya, saya katakan sebelumnya, bahwa lawan berat Wapres Gibran, termasuk Jokowi, tidak saja Denny Indrayana, Mercy Sihombing, Roy Suryo, dan Dokter Tifa, tapi Bonatua Silalahi.
Sebab, modal Bonatua itu tidak hanya kata-kata, tapi bukti-bukti.
Kini, Bonatua menemukan lagi bukti bahwa program yang diklaim Wapres Gibran dalam Suket itu tidak ada di UTS Insearch, pada masanya.
Jadi, tidak hanya Suket-nya yang diduga bodong, tapi juga isinya. Tapi, itu kan resmi dari lembaga resmi, "klaim loyalis Gibran.
Artinya, kendati Wapres Gibran sempat mengklaim bahwa mustahil ia tak lulus setara SMA, sementara ia tamatan sarjana.
Ini juga bisa dibantah dengan temuan Bonatua itu. Bonatua sendiri mengaku ada "orang baik" yang menghubungkan dengan bukti itu.
Bonatua sudah melaporkan Wapres Gibran dan KPU ke Bawaslu dengan temuannya itu. Kok, ke Bawaslu ya? Apa yang bisa dilakukan Bawaslu dengan bukti itu?
Apakah Bawaslu berani memanggil Wapres Gibran dan KPU? Buat apa lagi itu dilakukan?
Kalaupun terbukti ada pelanggaran administratif terhadap KPU dan Wapres Gibran, apa lagi yang bisa dilakukan Bawaslu saat ini?
Entahlah. Itulah mungkin cara Bonatua Silalahi untuk main aman di setiap langkahnya, tapi paling merepotkan.
ErizalDirektur ABC Riset & Consulting
BERITA TERKAIT: