Ia meninggal usai bermain basket. Bukan sekadar permainan mencari keringat; melainkan turnamen antarinsan pelabuhan bertempat di GOR Kuningan, Jakarta Selatan. Even cukup serius. Selain bermain basket David juga bermain golf. Jadi, dia terhitung fit untuk pria di atas 50 tahun dan bolehlah digelari olahragawan.
David akan berulang tahun ke-55 hari ini namun takdir membuat hari istimewa ini tidak bisa lagi dirayakan bersama keluarga tercinta dan handai tolan. Kehilangannya tidak hanya dirasakan oleh keluarga besarnya tetapi juga oleh industri kepelabuhan nasional. Pada titik ini saya dan David tak berjarak karena kami sama-sama ada dalam usaha tersebut.
Bedanya, dia berada di dalamnya sebagai profesional sementara saya menggelutinya sebagai orang luar. Awalnya sebagai kuli tinta, kini sebagai pengamat. Alumni Universitas Trisakti itu berkarir di bidang pelabuhan saat direkrut oleh Terminal Peti Kemas Jakarta International Container Terminal (JICT) yang merupakan anak usaha Pelindo II dan Hutchison, Hong Kong. Sekarang Pelindo II sudah lebur ke dalam Grup Pelindo Indonesia bersama Pelindo I, III dan Pelindo IV.
David pernah pula singgah di IPC TPK sebagai direktur utama sebelum menduduki posisi direktur utama Terminal Teluk Lamong, Jawa Timur. Almarhum memang sangat menguasai operasional terminal peti kemas dan menjadi orang pilihannya mantan direktur utama Grup Pelindo untuk urusan terminal kontainer. Kabarnya, dia masuk bursa calon dirut JICT tahun ini. Ia tidak bisa lagi melanjutkan proses menjadi pucuk pimpinan terminal peti kemas terbesar di Indonesia itu karena Tuhan lebih menyayanginya.
Suatu ketika, ada missed call di HP saya dari David. Tanpa berpikir panjang langsung saya telepon balik. Di ujung sambungan David sepertinya terkejut menerima telepon saya. Maklumlah kami tidak pernah bicara di telepon, hanya kirim pesan saja.
“Nanti saya telepon balik ya, bro.” ujarnya. Saya pun menutup sambungan telepon sambil berpikir keras: kok?! Penasaran, saya periksa dengan saksama nomor telepon David yang luput dijawab tadi.
Owalah, rupanya yang missed call bukan David Pandapotan Sirait melainkan David Pardede. Pantas saja dia terdengar bingung di seberang jalur. David Pardede merupakan seorang perwira menengah AD teman yang bertugas di seputaran Kalibata, Jakarta Timur. Sama-sama David.
Jujur saja, saya menanti telepon dari David Sirait sampai saat ini. Kalaupun saya menerima kabar darinya, itu adalah berita wafatnya. Selamat jalan, lae. Akan kutunggu terus telepon darimu…
Siswanto Rusdi
Direktur National Maritime Institute (Namarin)
BERITA TERKAIT: