Ia bukan sedang berperang, bukan sedang menyelamatkan orang dari kebakaran. Ia sedang menjalankan tugasnya sebagai imam. Namun, maut justru datang melalui sebuah salib kayu besar memuat patung Yesus.
Mari kita mengenal siapa sebenarnya Pastor Sánchez.
Ia lahir pada 1973 di Cuenca, Ekuador. Usianya sekitar 52–53 tahun ketika meninggal. Ia merupakan anggota Kongregasi Sang Penebus Mahakudus.
Ia dikenal sebagai Redemptoris, sebuah kongregasi Katolik didirikan Santo Alfonsus Maria de Liguori di Italia pada 1732.
Sánchez telah menjalani kehidupan religius selama lebih dari dua dekade. Pada 16 Oktober 2026, ia memperingati 15 tahun tahbisan imamatnya.
Nuan bayangkan, sehari sebelumnya orang-orang masih memberikan ucapan selamat atas perjalanan pengabdiannya. Sehari kemudian, ucapan itu berubah menjadi belasungkawa. Kehidupan memang penuh misteri.
Dalam perjalanan pelayanannya, Sánchez pernah menjadi pastor Paroki San Lorenzo di Vinces, Provinsi Los Ríos, selama beberapa tahun.
Setelah itu, ia melayani umat di Paroki Nuestra Señora del Perpetuo Socorro, Guayaquil. Di sana, ia bukan sekadar berdiri di depan altar untuk memimpin misa. Kesaksian umat menyebutnya sebagai sosok peduli terhadap masyarakat.
Ia ikut memperjuangkan agar rumah-rumah penampungan di seberang gereja tidak dibongkar.
Artinya, pengabdiannya bukan cuma urusan mimbar dan doa. Ia juga hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan nyata.
Seorang pastor berusaha menjaga tempat berteduh orang lain, ternyata tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dari benda yang jatuh di gerejanya.
Tragedi itu terjadi pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Ketika Sánchez memimpin misa yang disiarkan langsung, salib kayu besar di dinding tiba-tiba terlepas.
Tiang salib beserta patung Yesus jatuh dan menghantam bagian kepalanya. Kepanikan pecah. Terdengar teriakan,
“¡Padre, padre... llamen una ambulancia!” Artinya, “Bapa, Bapa, panggil ambulans!”
Begitulah akhir pelayanan seorang imam telah mengabdikan 15 tahun hidupnya setelah tahbisan. Bukan dengan homili penutup, bukan dengan berkat terakhir, melainkan tragedi yang membuat umat terpukul.
Ironinya sulit diabaikan. Salib merupakan lambang pengorbanan dan keselamatan dalam iman Kristen.
Namun, peristiwa ini juga mengingatkan, benda suci tetap membutuhkan pemasangan yang aman. Kesalehan tidak menggantikan baut, pemeriksaan konstruksi, atau pemeliharaan bangunan. Doa penting, tetapi keselamatan manusia juga harus dijaga.
Polisi setempat dilaporkan menilai kejadian tersebut sebagai kecelakaan dan belum membuka penyelidikan resmi. Karena itu, penyebab pasti terlepasnya salib dan tanggung jawab pemeliharaannya masih membutuhkan kejelasan.
Pada Minggu, 18 Oktober, umat dan para imam berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir. Peti jenazah diletakkan di depan altar.
Uskup Auksilier John Kwamevi Cudjoe memimpin homili, sementara Uskup Auksilier Gerardo Nieves memimpin liturgi dan ritual pemakaman. Paroki menjadwalkan novena setiap pukul 19.00 mulai Senin, 19 Oktober.
Kini, Pastor Sánchez dikenang bukan hanya karena cara tragis ia meninggal, tetapi juga karena pelayanan dan kepeduliannya kepada umat.
Selamat jalan, Pastor Sánchez. Lima belas tahun pengabdianmu sebagai imam tak pantas diringkas hanya menjadi kisah tentang kayu jatuh. Di balik tragedi itu, ada manusia yang pernah menolong, melayani, dan menguatkan sesamanya.
Bagi kita masih hidup, ada satu pelajaran pahit, jangan sampai perhatian terhadap keselamatan baru muncul setelah lonceng duka berbunyi.
Sebab, salib boleh menjadi lambang iman, tetapi keselamatan manusia tidak boleh digantungkan pada sepotong kayu semata.
Rosadi JamaniMantan wartawan
BERITA TERKAIT: