Masjid Apung An-Nur Jakarta

Senin, 19 Oktober 2026, 06:36 WIB
Masjid Apung An-Nur Jakarta
Masjid Apung An-Nur di kawasan Ancol Taman Impian, Jakarta Utara. (Foto: PPID DKI)
Kecil Besar
“Berapa biayanya, Pak Geis?”

ITULAH pertanyaan utama Pak Daniel Nainggolan ketika saya membicarakan gagasan Masjid Apung Ancol. Saya menjawab singkat, “Paling tinggi Rp50 miliar.”

Ketika itu, Masjid Apung Ancol belum punya nama. Bangunannya belum ada. Semuanya masih bergulir sebatas ide.

Saya mengajak para direksi bicara satu per satu. Tidak saya sampaikan dalam rapat, tidak pula melalui forum resmi.

Bagi saya, sebuah ide harus matang lebih dahulu. Semua harus memahami apa yang saya inginkan dan bagaimana cara mewujudkannya.

Maka, mulai dari direktur utama sampai seluruh jajaran direksi, saya ajak berbicara secara informal. Kami berdiskusi. Saya utarakan gagasan itu secara jelas dan gamblang, bahkan sampai pada hitung-hitungan angkanya.

Dengan jajaran direksi lainnya, pembicaraan relatif lebih mudah. Mereka hanya perlu mempertimbangkan apakah ide itu masuk akal, apakah bisa menambah pengunjung, dan apakah layak dijalankan.

Tetapi, dengan direksi keuangan, ceritanya berbeda.

Dengan direksi keuangan, saya harus bicara angka sejak awal. Perkiraan biaya harus tepat. Angkanya harus rasional dan logis. Perhitungan break-even point atau titik impasnya pun harus jelas.

Ketika saya membicarakan gagasan Masjid Apung Ancol dengan Pak Daniel, beliau memahami alasan di balik gagasan itu. Namun, yang paling penting bagi beliau tetaplah angkanya.

Dengan pengalaman bertahun tahun dibisnis properti, saya sudah menghitung perkiraan biaya sebelum berbicara dengan Pak Daniel. Saya menyebut angka paling tinggi Rp50 miliar.

Angka itu saya perhitungkan berdasarkan luas bangunan yang akan dibangun dan berbagai kebutuhan lainnya. 

Saya juga menjelaskan bahwa membangun masjid di darat tentu jauh lebih mudah dan lebih murah. Karena bangunannya akan berdiri di atas laut, struktur fondasinya membutuhkan biaya jauh lebih besar.

Namun, saya memberikan jaminan kepada Pak Daniel.

Ada lebih dari 25 juta warga di Jabodetabek. Kalau kita bisa menarik lima persen saja setiap tahun, terutama dari kalangan jamaah ibu-ibu pengajian dan emak-emak arisan kompleks yang sebulan sekali berkeliling mencari tempat baru, saya yakin dalam empat tahun investasi itu bisa kembali.

Pak Daniel tersenyum. Angka itu masuk akal baginya. Secara bisnis, gagasan tersebut layak dijalankan.

Saya memang terbiasa bicara dengan angka.

Jauh sebelum gagasan Masjid Apung Ancol muncul, saya pernah membuat semacam taruhan dengan Pak Daniel. Kali ini soal Resto Nyiur di Putri Duyung.

Kondisinya ketika itu sudah tidak layak. Pemasukan per bulan bahkan tidak sampai Rp200 juta.

Saya berkata kepada Pak Daniel, “Anggarkan Rp4 miliar untuk renovasi Nyiur Resto. Saya jamin, maksimal empat tahun sudah balik modal. Tapi desainnya harus sesuai dengan yang saya mau.”

Pak Daniel setuju. Direksi lainnya juga setuju. Komisaris lainnya, Pak Trisna, turut mendukung.

Nyiur pun direnovasi.

Selama renovasi berlangsung, saya seperti mandor bangunan saja. Saya ikut mengawasi berbagai detail pekerjaan. Luas taman yang tersisa saya hitung. Pemasangan keramik saya periksa menggunakan benang agar semuanya rata, sampai ke natnya.

Lampu taman yang di bawahnya terdapat speaker tersembunyi pun harus tertata dengan baik. Untuk speaker, saya memilih merek mahal yang kualitas suaranya sudah teruji.

Bagi saya, detail-detail seperti itu bukan perkara kecil. Sebuah tempat bukan hanya harus bagus dilihat, tetapi juga harus memberikan pengalaman yang membuat orang ingin datang kembali.

Nyiur Resto akhirnya dibuka.

Pada masa pandemi Covid-19, Putri Duyung menjadi satu-satunya tempat yang masih dapat menerima tamu. Dalam waktu satu tahun, modal renovasi Nyiur sudah kembali.

Bahkan, orang yang ingin makan di restoran itu harus melakukan pemesanan setidaknya satu minggu sebelumnya.

Pak Daniel tentu senang. Uang perusahaan kembali, bahkan menghasilkan keuntungan.

Pengalaman itu pula yang membuat pembicaraan tentang Masjid Apung menjadi lebih mudah.

Ketika saya menyampaikan gagasan Masjid Apung, pertanyaan Pak Daniel tidak lagi terlalu berbelit-belit. Beliau sudah memahami cara saya menghitung sebuah proyek. Yang perlu diperiksa berikutnya adalah kesiapan perusahaan untuk mewujudkannya.

Sebab, rupanya, dalam bayangan Pak Daniel, saya ingin membangun masjid seperti masjid-masjid besar yang dirancang Ridwan Kamil, dengan anggaran yang bisa mencapai Rp1 triliun.

Saya tertawa mendengarnya.

Saya katakan kepada beliau, di Jakarta sudah ada ribuan masjid. Kita tidak sedang membutuhkan masjid besar untuk bersaing dengan masjid-masjid yang sudah ada.

“Kita bukan sedang berdakwah. Kita sedang berbisnis.”

Maksud saya sederhana. Masjid Apung harus menjadi daya tarik baru yang dapat menambah pengunjung Ancol melalui wisata religi.

Bagi saya, membangun tempat ibadah di kawasan wisata juga harus dipikirkan dari sisi pengelolaan, biaya, dan manfaat ekonominya. Gagasan yang baik harus bisa diwujudkan dengan perhitungan yang masuk akal.

Pak Daniel memahami cara berpikir saya.

Beliau tahu bahwa ketika saya mengusulkan sesuatu, yang pertama kali saya pikirkan bukanlah bagaimana membuat bangunan semegah mungkin, melainkan bagaimana gagasan itu bisa berjalan, menarik pengunjung, dan menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.

Ada satu lelucon Pak Daniel tentang saya yang sampai sekarang masih saya ingat.

“Pak Geis ini Arabnya cuma di hidung. Selebihnya bisnis.”

Maksudnya, saya bukan orang yang fanatik dalam urusan agama, melainkan fanatik terhadap angka.

Saya tertawa mendengarnya.

Begitulah hubungan kami. Ada perbedaan cara pandang yang bisa didiskusikan, ada angka yang harus dihitung, ada keputusan yang harus dipertanggungjawabkan, tetapi selalu ada ruang untuk bercanda.

Bagi saya, melewati direksi keuangan adalah salah satu gerbang penting agar sebuah proyek bisa terlaksana. Sebagus apa pun gagasannya, kalau angka-angkanya tidak masuk akal, proyek itu akan sulit berjalan.

Ketika saya kembali bertemu Pak Daniel pada peresmian Masjid Apung An-Nur Jakarta, kami belum sempat bicara, tetapi sudah tertawa lebih dahulu.

Mungkin karena kami sama-sama tahu, ada perjalanan panjang di balik bangunan yang kini berdiri. Ada gagasan, ada angka, ada keyakinan, dan ada kepercayaan yang membuat semuanya menjadi kenyataan.

Hari itu, kami tak perlu lagi membicarakan angka Rp50 miliar. Tak perlu pula mengulang percakapan bertahun-tahun lalu.

Kami cukup tertawa, sebab ada kenangan yang tak membutuhkan kata-kata untuk bisa dipahami.

Terima kasih, Pak Daniel. 

Walau ujung ceritanya berbeda tapi bila dulu Bapak tidak membuka gemboknya. Hari ini, ceritanya tidak akan ada. 

Dulu Bapak membuka gemboknya. Hari ini, kita menyaksikan apa yang ada di balik pintu itu.

Kita menyaksikan mimpi itu berdiri nyata.rmol news logo article

Geisz Khalifa
Pegiat demokrasi
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA