JARI Apresiasi Investasi dan Penguatan Fondasi Ekonomi Prabowo

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/jamaludin-akmal-1'>JAMALUDIN AKMAL</a>
LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL
  • Rabu, 28 Oktober 2026, 15:42 WIB
JARI Apresiasi Investasi dan Penguatan Fondasi Ekonomi Prabowo
Sekjen JARI, Andrianto Andri. (Foto: Dokumen Pribadi)
Kecil Besar
rmol news logo Sekretaris Jenderal Jaga Republik Indonesia (JARI), Andrianto Andri, mengapresiasi perjalanan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sejumlah kebijakan pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional, meningkatkan investasi, serta membangun ketahanan pangan dan energi menjadi perhatian JARI.

Dalam evaluasi terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo, Andrianto menilai periode tersebut merupakan fase penting untuk meletakkan fondasi pembangunan dan memastikan program-program strategis berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.

"Dua tahun pertama pemerintahan merupakan fase penting untuk meletakkan fondasi pembangunan sekaligus memastikan program-program strategis berjalan sesuai kebutuhan masyarakat," kata Andrianto kepada RMOL, Rabu, 28 Oktober 2026.

Menurut Andrianto, upaya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, mendorong investasi, memperkuat produksi pangan dalam negeri, dan membangun kemandirian energi menjadi langkah penting menghadapi tantangan ekonomi global.

"Indonesia memiliki modal besar untuk terus berkembang. Kekayaan sumber daya alam, jumlah penduduk yang produktif, potensi pasar domestik, dan posisi strategis Indonesia di tengah dinamika global merupakan kekuatan yang perlu dikelola secara konsisten demi meningkatkan kesejahteraan rakyat," kata Andrianto.

JARI menyoroti kebijakan pemerintah mempertahankan harga sejumlah energi bersubsidi, termasuk Pertalite sebesar Rp10.000 per liter dan solar bersubsidi Rp6.800 per liter. Pemerintah juga disebut mempertahankan subsidi LPG 3 kilogram serta menjaga tarif listrik yang diatur pemerintah.

Menurut Andrianto, stabilitas harga energi berpengaruh langsung terhadap pengeluaran rumah tangga dan biaya produksi pelaku usaha.

"Bagi masyarakat, stabilitas harga energi memiliki dampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga. Bagi pelaku usaha kecil, harga energi yang terkendali juga berpengaruh terhadap biaya produksi, distribusi, dan keberlangsungan usaha," kata Andrianto.

Di sektor pangan, JARI menyoroti upaya pemerintah menjaga ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokok, termasuk beras, telur, dan daging sapi, melalui pengendalian pasokan serta operasi pasar.

"Keberhasilan pembangunan tidak hanya tercermin dalam angka pertumbuhan, tetapi juga dalam kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata Andrianto.

Dari sisi ekonomi, JARI mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,11 persen pada 2025, meningkat dibandingkan 5,03 persen pada 2024.

Realisasi investasi sepanjang 2025 disebut mencapai Rp1.931 triliun dengan penyerapan sekitar 2,7 juta tenaga kerja. Sementara itu, akumulasi investasi periode Oktober 2024 hingga Oktober 2026 disebut mencapai Rp3.923 triliun dengan penyerapan 5,4 juta tenaga kerja.

Andrianto memandang investasi sebagai instrumen penting untuk memperkuat industri nasional dan memperluas kesempatan kerja.

"Penyerapan tenaga kerja, peningkatan kualitas pekerjaan, kesempatan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah, serta pemerataan pembangunan menjadi faktor penting agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas," kata Andrianto.

JARI juga menyoroti penggunaan 77.000 pompa untuk membantu pengairan lahan pertanian dan penguatan cadangan beras Bulog yang disebut mencapai 4,5 juta ton.

Modernisasi pertanian, ketersediaan pupuk bersubsidi, peningkatan produksi padi dan jagung, serta pengembangan hilirisasi produk pertanian turut menjadi bagian dari agenda yang mendapat perhatian.

Bagi Andrianto, penguatan sektor pangan berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat dan masa depan petani Indonesia.

"Ketika produksi dalam negeri semakin kuat, Indonesia diharapkan memiliki daya tahan lebih baik dalam menghadapi gejolak harga pangan dunia, perubahan iklim, dan gangguan rantai pasok internasional," kata Andrianto.

Di sektor energi, JARI menyoroti pengembangan biodiesel B50, peningkatan kapasitas energi terbarukan, serta rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt.

"Di tengah ketidakpastian geopolitik dan risiko gangguan pasokan minyak dunia, diversifikasi energi menjadi agenda penting agar perekonomian Indonesia tidak terlalu rentan terhadap perubahan eksternal," kata Andrianto.

Andrianto juga menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur, kemampuan produksi, pembiayaan, dan keberlanjutan lingkungan dalam upaya mewujudkan kemandirian energi.

Di bidang kesehatan, JARI menyoroti Program Cek Kesehatan Gratis yang dalam evaluasinya disebut telah menjangkau 99,1 juta peserta.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), revitalisasi fasilitas kesehatan, penanganan tuberkulosis, serta peningkatan insentif tenaga kesehatan turut menjadi perhatian.

"Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan bagian penting dari pembangunan jangka panjang. Masyarakat yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk belajar, bekerja, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi," tutur Andrianto.

Sementara itu, di sektor pendidikan, pemerintah menargetkan revitalisasi 300.000 sekolah dan pembangunan 5.000 jembatan untuk mendukung akses pendidikan. Peningkatan kualitas guru, digitalisasi sekolah, dan perluasan beasiswa juga menjadi bagian dari agenda yang disoroti.

"Pendidikan yang lebih mudah dijangkau dan layanan kesehatan yang lebih baik bukan sekadar program pemerintah. Keduanya merupakan investasi untuk menciptakan generasi yang lebih sehat, terampil, dan siap menghadapi persaingan masa depan," ungkap Andrianto.

Di bidang industri, JARI memberikan perhatian terhadap agenda hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.

Pembentukan Danantara sebagai lembaga pengelola investasi strategis negara turut menjadi kebijakan yang disoroti. JARI juga menyebut pengembangan Bank Emas dengan pengelolaan sekitar 153 ton emas.

Andrianto memandang penguatan industri dalam negeri sebagai peluang untuk meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

"Hilirisasi diharapkan mendorong pengolahan sumber daya alam di dalam negeri sehingga Indonesia tidak hanya bergantung pada penjualan bahan mentah," kata Andrianto.

Manfaat industrialisasi, kata Andrianto, perlu menjangkau masyarakat luas melalui keterlibatan tenaga kerja lokal, penguatan UMKM, transfer teknologi, serta perlindungan lingkungan.

Di bidang ketenagakerjaan, JARI juga menyoroti kenaikan upah minimum sebesar 6,5 persen yang ditetapkan untuk 2025, perluasan perlindungan sosial, dan penguatan jaminan kehilangan pekerjaan.

"Kebijakan ekonomi pada akhirnya perlu diarahkan bukan hanya untuk memperbesar aktivitas usaha, melainkan juga meningkatkan kualitas hidup pekerja dan keluarganya," tutur Andrianto.

Di panggung internasional, JARI menyoroti keanggotaan Indonesia dalam BRICS serta penguatan kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan negara lain.

Diplomasi ekonomi dinilai penting untuk memperluas akses pasar, menarik investasi, dan memperkuat posisi Indonesia di tengah perubahan geopolitik global.

"Hubungan internasional yang kuat dapat menjadi modal bagi Indonesia untuk memperluas peluang pembangunan," kata Andrianto.

Indonesia dinilai memiliki peluang untuk memainkan peran yang semakin penting di tingkat internasional. Peluang tersebut perlu didukung penguatan industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan kemampuan melindungi kepentingan nasional.

Dalam materi evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo, JARI menekankan bahwa apresiasi terhadap program pembangunan perlu berjalan beriringan dengan evaluasi pelaksanaannya.

"Program yang baik perlu didukung pelaksanaan yang baik pula agar manfaatnya tidak berhenti pada laporan, target, atau angka statistik," tegas Andrianto.

JARI memandang stabilitas ekonomi, penguatan ketahanan pangan dan energi, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, hilirisasi industri, serta perluasan investasi sebagai agenda penting bagi masa depan Indonesia.

"Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap kebijakan berjalan konsisten, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan," kata Andrianto.

Dua tahun pemerintahan Prabowo menjadi momentum untuk memperkuat fondasi pembangunan sekaligus memperbaiki berbagai hal yang masih perlu ditingkatkan.

*Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pemerintahan tetaplah kehidupan rakyat. Ketika keluarga lebih mudah memenuhi kebutuhan, anak-anak memperoleh pendidikan yang layak, masyarakat mengakses layanan kesehatan, dan pekerjaan yang bermartabat semakin terbuka, di situlah pembangunan menemukan maknanya," pungkas Andrianto.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA