Kedua program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan layanan pendidikan di Tanah Air.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan, revitalisasi sekolah dan digitalisasi pembelajaran merupakan sarana untuk mencapai pendidikan yang bermutu.
“Revitalisasi dan digitalisasi itu bukan tujuan, tetapi sarana untuk mencapai tujuan pendidikan yang bermutu,” ujar Mu’ti dikutip pada Senin, 26 Oktober 2026.
Pada 2025, program revitalisasi menjangkau 16.167 satuan pendidikan, melampaui target awal 10.440 satuan pendidikan. Program tersebut diklaim memberikan manfaat kepada lebih dari 4,2 juta peserta didik di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota.
Pemerintah melanjutkan program itu pada 2026 dengan memprioritaskan sekolah yang mengalami kerusakan berat, berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta terdampak bencana.
Target revitalisasi tahun ini mencapai 51.744 satuan pendidikan. Jumlah tersebut terdiri dari 11.744 satuan pendidikan dalam pagu awal dan tambahan 40 ribu satuan pendidikan yang disalurkan melalui dua tahap.
Hingga 28 September 2026, bantuan revitalisasi telah disalurkan kepada 38.586 satuan pendidikan. Program ini ditargetkan mendukung lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman bagi 8.453.369 siswa di 38 provinsi, 514 kabupaten/kota, dan 6.481 kecamatan.
Selain perbaikan fisik sekolah, pemerintah memperluas pemanfaatan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar. Kemendikdasmen melaporkan sekitar 289 ribu satuan pendidikan telah menerima perangkat digitalisasi pembelajaran sejak 2025.
Perangkat tersebut meliputi Papan Interaktif Digital (PID) atau interactive flat panel (IFP), laptop, dan perangkat penyimpanan eksternal.
Mu’ti mengatakan, penggunaan PID diharapkan membuat proses belajar lebih menarik dan interaktif sehingga mendorong kreativitas peserta didik.
“Kehadiran PID ini berguna untuk memudahkan semuanya dalam menimba ilmu, membuat proses belajar menjadi lebih menarik, serta kaya akan kreativitas dengan pola interaktif,” kata Mu’ti.
Namun, penyediaan perangkat digital perlu diikuti dukungan listrik dan internet serta peningkatan kapasitas guru agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal di ruang kelas.
Pelaksanaan revitalisasi sekolah juga dinilai berpotensi menggerakkan ekonomi daerah melalui keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta tenaga kerja dalam pembangunan fasilitas pendidikan.
Dengan perluasan kedua program tersebut, pemerintah berupaya meningkatkan kualitas infrastruktur sekaligus memperkuat proses pembelajaran. Dampaknya tidak hanya ditentukan oleh jumlah sekolah yang diperbaiki atau perangkat yang disalurkan, tetapi juga oleh pemanfaatan fasilitas tersebut dalam kegiatan belajar sehari-hari.
BERITA TERKAIT: