Pengamat politik Hendri Satrio alias Hensa menilai, pujian presiden seharusnya menjadi penyemangat untuk meningkatkan kinerja, bukan alasan bagi para pembantunya untuk terlena. Menurutnya, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dibenahi di sisa masa pemerintahan.
“Pujian presiden itu vitamin buat menteri. Asal jangan berubah jadi obat tidur, harusnya mereka sadar juga kalau ini kembali dibela kinerja mereka,” kata Hensa, Jumat, 24 Oktober 2026.
Ia menegaskan, penilaian terhadap kinerja kabinet tidak cukup hanya mengacu pada pernyataan presiden. Sebab, ukuran keberhasilan pemerintah yang sesungguhnya adalah dampak kebijakan yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang bilang membanggakan itu Pak Prabowo, dan sah-sah saja. Tapi ‘membanggakan’ itu kata sifat. Rakyat butuhnya kata kerja, misal harga terjangkau, lapangan kerja ada, dapur tetap ngebul, kebijakan kelas menengah,” ucap dia.
Menurut Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu, keberhasilan pemerintah akan tercermin dari respons masyarakat, termasuk melalui hasil survei kepuasan publik.
“Kalau rakyat ikut bangga, enggak perlu diumumkan. Nanti kelihatan sendiri di survei,” imbuhnya.
Hensa juga menanggapi analogi sepak bola yang digunakan Prabowo ketika meminta pejabat yang merasa belum banyak berperan agar tidak frustrasi. Ia menilai, dinamika kabinet memang menyerupai tim sepak bola yang membutuhkan upaya pelatih untuk menjaga semangat seluruh pemain.
“Kabinetnya memang mirip tim sepak bola. Bedanya, bangku cadangannya panjang sekali. Wajar kalau pelatihnya harus rajin kasih semangat supaya yang duduk di bangku enggak ngambek,” kata Hensa.
Meski menganggap dua tahun pertama pemerintahan sebagai masa pemanasan, Hensa mengingatkan bahwa tiga tahun tersisa harus dimanfaatkan untuk menunjukkan hasil nyata. Menurutnya, pemerintah tidak bisa terus berada dalam tahap percobaan karena ekspektasi masyarakat terhadap kinerja kabinet semakin besar.
“Dua tahun pertama anggaplah pemanasan. Tiga tahun sisanya sudah harus cetak gol. Penonton di tribun itu sabar, tapi ada batasnya,” tandas Hensa.
BERITA TERKAIT: