Dalam survei terbaru Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dirilis Minggu kemarin, Gibran menempati urutan keempat dengan elektabilitas 6,9 persen melalui simulasi pertanyaan terbuka atau
top of mind.
Hasil serupa juga terlihat dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), di mana dalam simulasi semi-terbuka dengan 24 nama calon presiden, Gibran memperoleh elektabilitas sebesar 8,4 persen dan menempati urutan keempat, di bawah Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto.
Melihat fenomena ini, pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, menilai terdapat sejumlah faktor yang dapat memengaruhi penerimaan masyarakat terhadap Gibran, salah satunya sikap dan responsnya dalam menghadapi berbagai persoalan nasional.
Lanjut Ari, Gibran merespons isu yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat baik di pusat maupun daerah, seperti polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Harus diakui pemilihan sikap Gibran terhadap kebijakan pemerintahan seperti polemik MBG dan masalah Karhutla begitu berbeda dengan sikap prabowo dan publik menaruh respek kepada Gibran,” ujar Ari dalam keterangannya Kamis, 22 Oktober 2026.
Ari pun berpandangan bahwa sikap itu menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penilaian terhadap figur tersebut, di luar berbagai kontroversi politik yang berkembang.
Meski demikian, Ari mengingatkan bahwa posisi Gibran di survei elektabilitas tidak dapat dilepaskan dari pengaruh politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
“Kalau pun Gibran bisa masuk 5 besar peraih elektabilitas tertinggi tidak terlepas dari efek nama besar ayahnya Jokowi yang memang punya efek politik di masyarakat,” pungkas Ari.
BERITA TERKAIT: