Dari ratusan naskah yang masuk, tercatat sekitar 1.600 peserta terlibat dalam ajang tahun ini. Tingginya partisipasi tersebut mencerminkan antusiasme sekaligus meluasnya gerakan pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah.
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kemenko PM, Prof. Abdul Haris, menegaskan pentingnya perubahan paradigma dari pemberian bantuan menuju pemberdayaan yang membangun kemandirian.
“Kita tidak ingin memberikan bantuan terus-menerus, tetapi mengubah paradigma, bahwa bantuan harus diupayakan menuju pemberdayaan,” ujarnya, Rabu, 21 Oktober 2026.
Ia lalu menyoroti potensi perguruan tinggi dan mahasiswa sebagai kekuatan besar dalam menghadirkan inovasi dan pendampingan nyata bagi masyarakat.
Proses seleksi dilakukan secara bertahap melalui kurasi dan penjurian yang melibatkan dewan juri lintas lembaga, antara lain BAN-PT, BRIN, akademisi, dan mitra pemberdayaan, serta didukung Forum Rektor Indonesia (FRI) dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) sebagai mitra strategis.
Penilaian menitikberatkan pada dampak nyata, inovasi, keterlibatan masyarakat, dan keberlanjutan program, sehingga bukti nyata perubahan yang dirasakan masyarakat menjadi hal yang utama.
Melalui Mandaya Awards dan Innovillague, Kemenko PM mendorong agar berbagai inovasi dan aksi nyata pemberdayaan tidak berhenti sebagai keberhasilan di satu lokasi, tetapi dapat dikembangkan dan direplikasi di berbagai daerah.
Mandaya diharapkan menjadi gerakan bersama untuk memperluas kesempatan, memperkuat kemandirian masyarakat, dan mempercepat pengentasan kemiskinan.
BERITA TERKAIT: