Hasil tersebut merupakan survei PPI yang dilaksanakan pada 26 September hingga 6 Oktober 2026. Survei melibatkan 1.200 responden di 38 provinsi dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sebesar 2,83 persen.
“Memang sih ada beberapa perubahan yang dilakukan, dan tentunya hasil kepuasan 60-an persen itu jauh lebih baik dibandingkan hasil lembaga survei lainnya. Dan ini merupakan sinyal positif juga buat pemerintahan yang sedang melakukan pembenahan,” ujar pengamat politik Hendri Satrio, Senin, 19 Oktober 2026.
Namun sosok yang akrab disapa Hensa itu menilai angka tersebut belum ideal untuk pemerintahan yang sudah memasuki usia dua tahun. Menurut dia, tahun ketiga perlu menjadi momentum untuk memperbaiki kinerja.
Bagi akademisi Universitas Paramadina ini, kepuasan di atas 60 persen menempatkan pemerintah pada posisi yang lebih baik dibandingkan potret dari survei-survei sebelumnya.
“Dua tahun pemerintahan dengan kepuasan di angka 60-an persen tentunya masih kurang memuaskan bagi pemerintah. Setelah 20 Oktober ini, perjalanan menuju tahun ketiga harusnya bisa diperbaiki lagi,” kata Hensa.
Selain angka kepuasan, survei yang sama mencatat tingkat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah mencapai 67 persen. Hensa membaca angka kepercayaan yang sedikit lebih tinggi dari angka kepuasan itu sebagai tanda bahwa publik masih memberi kesempatan kepada pemerintah.
“Kepercayaan 67 persen itu sedikit lebih tinggi dari angka kepuasannya. Artinya, masyarakat masih menaruh harapan dan memberi kesempatan kepada pemerintah. Kepercayaan ini harus dijawab dengan kerja nyata di tahun ketiga, jangan sampai disia-siakan,” tandas Hensa.
BERITA TERKAIT: