Dalam survei bertajuk
Evaluasi Kinerja Pemerintah – 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran yang digelar pada 15-21 September 2026, sebanyak 36,2 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kinerja Presiden. Sementara 3,5 persen lainnya belum menentukan pilihan.
“Di tengah tekanan ekonomi dunia dan keterbatasan sumber daya global, angka kepuasan terhadap Presiden Prabowo masih tergolong tinggi. Temuan ini sekaligus menjadi pembanding bagi sejumlah survei lain yang menunjukkan penurunan kepuasan publik terhadap Presiden,” kata Direktur Eksekutif Adidaya Institute, Rahman Toha Budiarto saat merilis hasil survei di Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026.
Rahman menjelaskan, tingginya kepuasan publik ditopang sejumlah faktor. Salah satunya adalah penilaian positif terhadap kondisi pertahanan, keamanan, dan politik nasional.
Sebanyak 61,3 persen responden menilai pertahanan nasional cukup kuat. Sementara 54,8 persen menilai keamanan dan ketertiban masyarakat terjaga, serta 53,5 persen menilai kondisi politik nasional relatif stabil.
Penilaian positif juga terlihat pada kebebasan berpendapat dan pemberantasan korupsi. Masing-masing mendapat penilaian baik dari 54,1 persen dan 54 persen responden.
“Rasa aman dan stabilitas adalah fondasi. Publik melihat negara hadir menjaga keamanan dan ketertiban, politik relatif tenang, dan pemerintah serius memberantas korupsi. Di tengah situasi dunia yang tidak menentu, rasa aman seperti ini sangat dihargai masyarakat,” ujarnya.
Faktor berikutnya adalah gaya kepemimpinan Prabowo. Sebanyak 51,3 persen responden menyatakan setuju dengan gaya kepemimpinan Presiden. Dari kelompok tersebut, tingkat kepuasan terhadap kinerja Prabowo mencapai 88,7 persen.
“Publik menyukai pemimpin yang tegas, berani mengambil keputusan, dan turun langsung mengawal programnya. Gaya kepemimpinan inilah yang membuat kepercayaan kepada Presiden tetap tinggi, bahkan ketika sebagian menterinya dinilai belum optimal,” tutur Rahman.
Dukungan terhadap Prabowo juga terlihat di berbagai kelompok masyarakat. Tingkat kepuasan tertinggi tercatat pada responden berusia di atas 61 tahun sebesar 71,3 persen. Angka tersebut disusul warga berpendidikan SD ke bawah sebesar 63,2 persen, perempuan 62,7 persen, serta masyarakat Indonesia Timur 62,4 persen.
“Yang menarik, kepuasan paling tinggi justru datang dari warga yang selama ini sering merasa jauh dari pusat kekuasaan: warga lanjut usia, berpendidikan dasar, kaum perempuan, dan masyarakat Indonesia Timur. Ini menunjukkan kebijakan Presiden Prabowo dirasakan sampai ke bawah,” katanya.
Namun, faktor yang paling menonjol adalah keterkaitan antara pengalaman masyarakat menerima manfaat program pemerintah dan tingkat kepuasan terhadap Presiden.
Pada kelompok responden yang merasakan dampak 10 atau lebih dari 17 program unggulan pemerintah, kepuasan terhadap Prabowo mencapai 90,7 persen. Sebaliknya, tingkat kepuasan hanya 34,2 persen pada responden yang belum merasakan dampak satu pun program tersebut.
“Terlihat jelas betapa besar pengaruh program prioritas seperti MBG dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih terhadap kepuasan publik. Makin banyak program yang dirasakan warga, makin tinggi kepuasannya,” jelas Rahman.
Secara keseluruhan, kepuasan terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran tercatat sebesar 55,6 persen. Sementara tingkat ketidakpuasan mencapai 36,2 persen.
Survei Adidaya Institute melibatkan 1.240 responden melalui wawancara tatap muka pada 15-21 September 2026 di 38 provinsi. Responden dipilih menggunakan metode
probability sampling dari 124 titik sampel di 122 kabupaten/kota.
Survei tersebut memiliki
margin of error sekitar 2,78 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
BERITA TERKAIT: